Tuesday, October 31, 2023

Perbanyakan tanaman Durian Otong: Okulasi Durian Otong dengan Sambung samping?

Okulasi Tanaman Durian Otong: Perbanyakan tanaman Durian Otong dengan Sambung samping?

    Teknik perbanyakan vegetatif yang dilakukan secara okulasi dapat melalui penggabungan antara batang atas (mata tempel) atau entres dengan batang bawah (rootstock) yang mempunyai karakteristik atau sifat yang berbeda-beda (Yanengga & Tuhuteru, 2020). Menurut Savitri & Afrah, 2019, teknik perbanyakan vegetatif buatan melalui metode sambungan berperan dalam  memperoleh sifat-sifat dari tetua, memperoleh tanaman yang kokoh, serta memperbaiki jenis tanaman yang sesuai dengan keingingan,  hal ini dapat mempercepat pertumbuhan dan  batang yang dihasilkan tegak serta pohon berbuah. Adapun macam-macam teknik sambungan yaitu sambung sisip (sambung samping) dan sambung pucukKeberhasilan okulasi (grafting) salah satunya dapat dilihat dari munculnya tunas baru dari tunas tempel saat umur 2-3 minggu setelah dilakukannya okulasi (grafting) (Rahmatika, Widyana, and Fajar S., 2018).

Persiapan Batang Bawah Durian Otong:  dengan pembibitan durian lokal



    Sebelum okulasi tanaman durian, dilakukan pembibitan dengan menanam bibit durian sebagai batang bawah untuk nantinya ditempelkan dengan entres durian yang dipilih. Untuk batang bawah, varietas durian yang digunakan adalah durian lokal, karena durian lokal resisten terhadap hama penyakit, lebih kuat, kokoh, lebih mudah dikembangkan, kemampuan hidupnya lebih tinggi. Langkah kerja yang harus dilakukan adalah: 
  1. Memilih biji durian lokal yang baik, memiliki bentuk yang bulat, tidak kisut atau peset atau mengkerut, tidak rusak, kulit biji tidak robek, dan kualitas biji yang baik. 
  2. Setelah memilih biji yang baik, kemudian biji di cuci menggunakan air mengalir hingga terpisah dari daging buahnya. karena jika daging buah masih menempel pada biji kemungkinan terjadi kontaminasi jamur pada bibit tanaman, yang menyebabkan bibit tidak mau tumbuh, busuk, bahkan mati. 
  3. Kemudian, biji yang sudah dicuci, dikeringkan dan ditanam pada media tanam yang sudah disiapkan sebelumnya. Biji ditanam dengan membenamkan sebagian biji ke dalam tanah dan sebagian lagi muncul kepermukaan tanah.hal ini bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan dan meminimalisir terjadinya kontaminasi jamur. Karena apabila dibenamkan seluruh biji ke dalam tanah pertumbuhannya lambat bahkan biji dapat mengalami dormansi. Biji dapat ditanam pada polybag dan juga pada media tanam bedengan di lahan. 
  4. Setelah ditanam, biji di siram dan umur 2-3 minggu biji sudah mulai tumbuh. Untuk mencapai panjang 30 cm atau siap untuk di okulasi membutuhkan waktu selama 3-4 bulan, tergantung pertumbuhan dari tanaman durian lokal. 
  5. Selanjutnya masuk ke tahap okulasi tanaman durian. 

Okulasi Durian variertas Otong (Durio zibethinus murr)

    Teknik Okulasi yang diterapkan di kebun Luwus untuk jenis tanaman durian adalah teknik sambung samping. Teknik sambung samping merupakan modifikasi teknik okulasi. Pelaksanaan teknik sambung samping yaitu sebagai berikut,

  1. Palaksanaan penyambungan diawali dengan mempersiapkan alat berupa pisau tajam atau cutter, alkohol 70%, dan plastik.
  2. Pelaksanaan penyambungan diawali juga dengan menyiapkan entres dari tanaman durian varietas Otong. Pengambilan entres dari pohon induk dengan memperhatikan pucuk daun dengan memilih daun yang tidka terlalu tua dan tidak terlalu muda, daun nya tidak terserang penyakit atau bintik-bintik (bercak-bercak), memilih pucuk yang tidak ada percabangan lagi dibagian pucuknya, selain itu harus terdapat tunas kecil yang tumbuh di ketiak daunnya karena tunas tersebut yang akan disambungkan pada batang bawah. 
  3. Selanjutnya, membuat jendela sambungan pada batang bawah dengan ukuran 1 jengkal atau 20 cm dari tanah. Caranya dengan menyayat kulit batang bawah mendatar dan menurun seperti huruf T kemudian kulit batangnya di buka. Setelah dibuah, kemudian dibuat sayatan  kedua lagi di atas jendela sayatan pertama dengan teknik sayat samping sekitar 2 cm. 
  4. Kemudian menyayat entres meruncing agar mudah di tempelkan pada batang bawah. 
  5. Penyambungan dilakukan dengan menyisipkan entres yang sudah diruncingkan ke dalam jendela sambungan hingga benar-benar tersisipi dan tidak goyang. 
  6. Selanjutnya, sambungan diikat dengan plastik okulasi yang dimulai dari bagian bawah keatas secara rapat. Tujuannya agar air tidak masuk ke dalam sambungan, dan mencegah terjadinya kontaminasi dan kegagalan pada sambungan durian. 
  7. Setelah umur 2-3 minggu jika ciri-ciri sambungan berwarna coklat tua, tidak ada perkembangan pada mata tunas di sambungannya yang artinya entres mati atau gagal berkembang. Sedangkan jika setelah 2-3 minggu ada pertumbuhan dari tunasnya berarti okulasi berhasil. 
  8. Selajutnya untuk pemeliharaan tanaman dilakukan dengan cara yakni meliputi penyiraman, penyiangan gulma dan pengendalian OPT atau hama penyakit. 

Sumber:

  1. Fitriyanto,I. A., Karno, dan B. A. Kristanto. 2019. The success of side grafting of durian plants due to the concentration of IAA (Indole Acetic Acid) and different age of rootstock). J. Agro Complex. 3(3):166-173.
  2. Hartmann, H.T., Kester, D.E., Davies Jr., F.T. and Geneve, R.L. (2010) Plant Propagation: Principles and Practices. 8th Edition, Prentice-Hall, New Jersey, 915 p.
  3. Lukman, L. 2021. Buku Lapang Budidaya Durian. Jakarta: Direktorat Buah dan Florikultura. 
  4. Savitri, & Afrah. (2019). Aplikasi Teknik Sambung Pucuk (Top Grafting) Untuk Perbanyakan Tanaman Durian (durio zibethinus murr). 3(1), 40–47.
  5. Rahmatika, Widyana, and Fajar Setyawan. "Kompatibilitas Batang Bawah dengan Batang Atas pada Metode Grafting Tanaman Durian (Durio Zibethinus Murr)." Agritrop, vol. 16, no. 2, 2018, pp. 268-275, doi:10.32528/agritrop.v16i2.1810. 
  6. Yanengga, Y., & Tuhuteru, S. (2020). Pemanfaatan Pupuk Organik Cair Nasa dalam Meningkatkan Produktivitas Bawang Merah di Daerah Wamena. Agroteknika, 3(2), 85–98. https://doi.org/10.32530/agroteknika.v3i2.78


Dokumentasi: 

Gambar 1. Pembuatan Sayatan Pertama pada Batang Bawah dengan Cara Mendatar dan Menurun seperti Huruf T



Gambar 2. Mempersiapkan entres, Menyayat entres dan Menyisipkan atau Menempelkan pada Batang Bawah.

Gambar 3. Mengikat Entres Menggunakan Plastik dari Bawah Keatas.

Gambar 4. Kegiatan Okulasi dengan Media Tanam di polybag

Gambar 4. Kegiatan Okulasi bersama Petani


Monday, October 30, 2023

Pemupukan Durian dengan Sistem Kocor: Cara Paling Optimal dalam Mempercepat Pertumbuhan Tanaman

Pemupukan Durian dengan Sistem Kocor: Cara Paling Optimal dalam Mempercepat Pertumbuhan Tanaman

        Pupuk merupakan suatu komponen yang penting dalam pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Dalam pemeliharaan suatu tanaman, salah satu teknik yang digunakan yakni dengan memupuk tanaman. Metode memupuk sangat berperan dalam keberhasilan tanaman produksi. Dengan memupuk dapat mengoptimalkan pertumbuhan, perkembangan serta produktivitas suatu tanaman. Pemupukan berperan dalam mengganti hilangnya unsur hara serta menambah kesediaan unsur hara yang diperlukan tanaman dalam meningkatkan kualitas dan produksi  tanaman.

      
    Di UPTD. BPPSTPHBUN, teknik memupuk menggunakan Pupuk NPK yang dilakukan ada 2 sistem, yakni sistem tabur dan dikocor. Dari kegiatan yang dilakukan di kebun luwus, untuk sistem tabur dilakukan saat pengolahan lahan, untuk mengembalikan kondisi tanah dan kesuburan tanah. Biasanya dilakukan saat mengolah tanah yang kering ketika membuat bedengan atau gundukan sebelum menanam bibit tanaman. Sedangkan untuk sistem kocor biasanya dilakukan ketika tanaman sudah tumbuh untuk menjaga dan meningkatkan kualitas tanaman. 


    Teknik memupuk pada perbanyakan tanaman yang sudah tumbuh adalah formulasi cair dengan teknik dikocor. Bahan yang digunakan adalah pupuk NPK yang dicairkan dengan dicampur menggunakan air.  Konsentrasi yang digunakan adalah 2gr/L air. Pupuk NPK termasuk dalam pupuk majemuk karena mengandung tiga unsur sekaligus (NPK) dan sering disebut pupuk lengkap. Menurut Purba, T., Ringkop, S., dkk. 2021, Pupuk NPK dimanfaatkan pada tanaman untuk menyeimbangkan unsur hara makro dan mikro pada tanah. Kandungan unsur hara dari pupuk NPK  sangat dibutuhkan oleh tanaman, seperti nitrogen (N), fosfat (P), kalium (K), magnesium (Mg), dan kalsium (Ca). Pupuk  NPK memiliki komposisi yaitu N sebanyak 15%, fosfat dalam bentuk P2O5 sebanyak 15%, K sebanyak 15%, S sebanyak 10% dan unsur lainnya. Unsur N, P, dan K merupakan unsur hara esensial bagi tanaman dan berperan sebagai faktor batas bagi pertumbuhan tanaman. Peningkatan dosis pemupukan nitrogen pada tanah secara langsung mampu meningkatkan kadar protein dan produksi suatu tanaman, namun jika unsur N saja yang terpenuhi tanpa unsur P dan K mengakibatkan mudah rebahnya tanaman, lebih peka terhadap serangan hama penyakit dan mennyebabkan penurunan  kualitas produksi tanaman (Tuherkih & Sipahutar, 2008).

Pemupukan pada tanaman tahunan

    Pada tanaman tahunan/tanaman perkebunan seperti durian otong dapat diaplikasikan dengan menggunakan sistem kocor, dengan cara dikocorkan ke sekitar perakaran tanaman. Aplikasi pupuk NPK dalam tanaman yang dilakukan di kebun Luwus adalah dengan sistem kocor, yaitu menggunakan NPK yang dicampurkan ke dalam air, formulasi NPK adalah 2gr/L air.  Pemupukan dengan sistem kocor merupakan suatu teknik atau metode yang digunakan dalam memupuk tanaman yang dilakukan dengan cara melarutkan pupuk NPK kedalam 1 liter air bersih. Larutan pupuk NPK siap diaplikasikan ke tanaman. Aplikasi pemupukan dilakukan terhadap setiap tanaman dengan memberikan larutan NPK 1 centong kecil/tanaman yang dikocorkan dekat dengan perakaran bibit tanaman. 


Gambar 1. Sistem pemupukan dengan sistem tabur (kiri) dan dikocor (kanan). 


Sumber: 

  1. Tuherkih, E., & Sipahutar, I. A. (2008). Pengaruh Pupuk NPK Majemuk (16:16:15) terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung (Zea mays L) di Tanah Inceptisols. Balai Penelitian Tanah, 77–90.
  2. Purba, T., Ringkop, S., dkk. 2021. Pupuk dan Teknologi Pemupukan. Medan: Yayasan Kita Menulis. 
  3. Asri, M., Hardian, N., dkk. 2023. Kesuburan dan Pemupukan Tanah. Palembang: Yayasan Kita Menulis. 

Saturday, October 21, 2023

Pengelolaan Lahan

Pengelolaan Lahan

    Pengelolaan lahan merupakan tahap awal dari budidaya tanaman dan salah satu teknik yang dilakukan sebelum memulai menyemai atau pembibitan tanaman. Pengelolaan lahan dilakukan agar kondisi tanah yang tadinya tidak siap untuk ditanam menjadi siap untuk ditanam selain itu juga untuk mengembalikan kesuburan dan tekstur tanah agar nantinya tanaman dapat tumbuh dengan mudah menembus tanah. Pengelolaan atau pengolahan tanah yang dilakukan di lapangan latau lahan jeruk dan durian UPTD. BPPSTPHBUN adalah membuat bedengan dan pemasangan mulsa plastik. Kegiatan membuat bedengan dan pemasangan mulsa plastik dapat dijabarkan sebagai berikut. 

Pembuatan Bedengan (Gundukan)

    Bedengan atau yang lebih dikenal dengan gundukan merupakan tanah yang dibentuk meninggi seperti sebuah gundukan memanjang. Bedengan yang dibuat pada lahan, sebelumnya tanah telah digemburkan terlebih dahulu untuk mengembalikan kesuburan tanah dan teksur tanah agar nantinya tanaman yang tumbuh dengan mudah untuk menembus tanah yang gembur. Pembuatan bedengan dengan cara meninggikan tanah dengan kontur tanah menyerupai lereng sehingga bentuknya seperti gundukan. Alat yang digunakan adalah cangkul  dengan cara mencangkul tanah hingga membentuk gundukan. Fungsi dari pembuatan bedengan adalah untuk mempermudah dalam pembuangan air ketika hujan karena adanya selokan-selokan dibawah bedengan, memudahkan tanaman meresap air atau menjaga ventilasi udara tetap baik dan aliran air bagi tanaman, tanaman dapat tertara dengan rapi, memudahkan melakukan penyirapan, pemupukan, dan pengendalian hama, serta menjaga kelembapatan tanah.  

    Kegiatan yang saya lakukan adalah pengolahan tanah dengan membuat bedengan untuk menanam batang bawah yang akan menjadi batang induk untuk okulasi tanaman jeruk Tejakula. Adapun langkah-langkah yang dilakukan yaitu sebagai berikut: 

  • Sebelum membuat bedengan, tanah digemburkan terlebih dahulu
  • Kemudian tanah dicangkul dan dibuat seperti gundukan memanjang. 
  • Tanah yang kering diirigasi menggunakan air mengalir untuk mengembalikan kelembapan tanah. 
  • Setelah itu, tanah diberikan campuran Pupuk Kompos, Pupuk NPK, dan Kapur Dolomit disebar di atas tanah secara merata. Tujuan dari pemberian pupuk ini adalah untuk mempersiapkan tanah yang baik untuk pertumbuhan batang bawah sehingga kondisi unsur-unsur hara tanah kembali dan tanaman jeruk dapat tumbuh maksimal. 

Komposisi: 

  • Pupuk Kompos: Pupuk kompos merupakan salah satu jenis pupuk organik yang telah mengalami proses penguraian mikroorganisme dengan bahan organik. Selain itu juga menggunakan pupuk kotoran sapi. 
  • Pupuk NPK: Pupuk sintentik yang sering digunakan oleh para petani adalah pupuk NPK. Pupuk NPK adalah pupuk yang memilik kandungan tiga unsur hara makro, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). unsur hara makro baik bagi pertumbuhan tanaman. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa unsur hara makro tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara nyata dan signifikan. 
  • Dolomit adalah kapur yang digunakan untuk keperluan pertanian. Kapur ini mengandung kalsium (CaO) dan Magnesium (MgO). Kapur dolomit mengandung unsur hara kalsium oksida (CaO) dan juga magnesium oksida (MgO) dengan kadar yang cukup tinggi hal ini dapat menetralkan pH tanah. Kegunaan utama dolomit yaitu untuk meningkatkan pH tanah maupun air serta menetralkan kadar keasaman tanah.

Wednesday, October 18, 2023

Okulasi Tanaman Jeruk Tejakula

 Okulasi Tanaman Jeruk Tejakula (Citrus reticulata var. Tejakula)

        Terdapat beberapa variasi metode yang bisa dilakukan dalam perbanyakan tanaman jeruk seperti stek, cangkok, grafting, dan okulasi (Musthofa, et al. 2019). Di Indonesia sendiri, dalam perbanyakan tanaman salah satu metode yang dilakukan adalah dengan okulasi. begitu pula dengan di tempat magang yakni UPTD. BPPSTPHBUN. Okulasi merupakan penempelan dua sifat tanaman yang memiliki sifat baik. Menurut Musthofa, et al. (2019), okulasi sebagai kegiatan yang pengabungan antara sifat unggul yang dimiliki oleh batang atas dengan sifat unggul yang dimiliki oleh batang bawah. 

        Salah satu kegiatan perbanyakan yang dilakukan di UPTD. BPPSTPHBUN ini adalah menggunakan teknik okulasi. Okulasi merupakan sebuah teknik perbanyakan pada tanaman secara vegetatif. Okulasi ini dapat dilakukan pada tanaman jeruk. Teknik okulasi ini dilakukan dengan menggabungkan atau menempelkan tanaman yang masih dalam satu spesies tanaman. Dari observasi yang saya lakukan dengan melihat petani melakukan okulasi, okulasi baik dilakukan di pagi hari pada pukul 07:00-10:00 karena di pagi hari biasanya tumbuhan melakukan proses fotosintesis. 

Kriteria Okulasi

    Sebelum melakukan okulasi pada tanaman jeruk, tentunya ada beberapa kriteria atau syarat yang harus dilakukan untuk menghasilkan bibit tanaman jeruk baik. 
  1. Pengaruh Letak Mata Tempel. Dalam pertumbuhan mata tempel, panjang batang atas sangat mempengaruhi hasil okulasi. Semakin panjang tunas batang atas maka semakin banyak jumlah daun batang atas yang dihasilkan. Karena semakin banyak jumlah daun maka proses fotosintesis akan semakin meningkat, hal ini menyebabkan lebih banyak terbentuknya asimilat. (Purba, J., Wahyuni, P., & Suarnaya, I. 2019). batang bawah yang digunakan dalam menempel mata tempel harus memiliki kambium yang sedikit tebal dan berair dengan diameter sebesar pencil. Posisi buku sumber mata tempel yang optimal adalah bagian tengah karena penampangnya berbentuk bulat dan banyak terdapat kambium. Oleh sebab itu dalam tahap awal pertumbuhan mata tempel, sel-selnya juga aktif dalam pertumbuhan.
  2. Mutu Mata Tempel. Mata tempel yang baik adalah mata tempel pada bagian pangkal ranting tidak dipakai (mata tunas dorman) sebab memiliki karakteristik kulit yang tipis dan cenderung berkayu, pada bagian ujung ranting mata tempel yang masih muda yang masih berbentuk relatif pipih dengan kadar air yang banyak (Purba, J., Wahyuni, P., & Suarnaya, I. 2019). 
  3. Alat yang digunakan harus steril. Alat yang digunakan dalam proses okulasi yakni pisau atau cutter yang tajam dan steril. Hal ini bertujuan agar tidak terjadinya kontaminasi atau pembusukan pada tunas mata tempel. 

(Cara Okulati Tanaman Jeruk Tejakula)
Dokumentasi pribadi 

    Dalam perbanyakan tanaman, terdapat beberapa jenis okulasi (grafting)Budding merupakan salah satu bentuk okulasi di mana batang atas terdiri dari tunas tunggal (single bud) dan bagian kecil kulit kayu  atau tanpa kayu. Terdapat dua teknik okulasi yang lebih sederhana yang dapat dilakukan yaitu Chip budding dan T-budding (Shield Budding)yang merupakan teknik yang paling penting bagi tanaman hias dan pohon buah. Chip budding dan T-budding jauh lebih sederhana dan, karenanya, jauh lebih cepat daripada teknik okulasi manual (Hartmann, H.T., et al. 2010: 484). 

 Prosedur Kerja Okulasi Jeruk Varietas Tejakula

    Teknik okulasi pada tanaman jeruk yang diterapkan di kebun luwus yakni mengugnakan teknik Chip Budding. Teknik chip budding adalah teknik primary budding yang banyak digunakan untuk pohon berkayu, pohon berbuah, semak, tanaman hias dan masih banyak lagi. Teknik ini umumnya diterapkan di batang bawah, dengan diameter batang 13-25mm.  Chip pada kulit kayu dihilangkan pada bagian kulit yang halus diantara buku (node) dekat pangkal batang bawah yang nantinnya akan digantikan dengan chip yang baru dengan ukuran dan bentuk yang sama dari batang atas (Hartmann, H.T., et al. 2010: 484).
  • Pada batang atas (budstick) potonggan pertama kali dilakukan tepat dibagian tunas yang akan digunakan dengan kemiringan sudut 30-45 derajat. Untuk potongan kedua dimulai sekitar 25 mm diatas bagian tunas dan masuk kedalam dan kebawah dibelakang tunas tempel sampai memotong potongan pertama. 
  • Kulit batang bawah (rootstock) lebih tebal sehingga lapisan kambium pada tunas tempel harus ditempelkan bertepatan dengan bagian yang disayat, lebih baik mengenai kedua sisi kambium batang bawah, namun setidaknya mengenai satu sisinya. Sayatan sama dengan perlakukan pada batang atas. 
  • Pembungkusan okulasi harus dilakukan untuk menutup bagian yang disayat dan untuk menahan agar sayatan tunas di batang bawah lebih erat sehingga tunas tempel tidak cepat kering (dry out). Pembungkusan memang harus segera dilakukan untuk menghindari kekeringan pada tunas tempel. Apabila tunas tempel sudah mulai tumbuh, maka plastik pembungkus harus segera dilepaskan. 
Gambar 1. Teknik Chip Budding
(Sumber: Hartmann, H.T., Kester, D.E., Davies Jr., F.T. and Geneve, R.L. (2010):492)


https://propg.ifas.ufl.edu/images/06-grafting/03-buddingtypes/graftingbudchip/image9.jpg
Gambar 2. Teknik Chip Budding
(Sumber:https://propg.ifas.ufl.edu/06-grafting/03-buddingtypes/02-grafting-budchip.html dan https://www.ndsu.edu/pubweb/chiwonlee/plsc368/student/papers02/maasheim/appleprop.htm)


    Menurut Bapak Wayan Suartana, dalam melakukan okulasi membutuhkan batang bawah untuk menempel mata tunas tanaman Jeruk Tejakula. Cara melakukan okulasi yaitu sebagai berikut: 
  1. Memilih Batang Bawah. Varietas tanaman jeruk untuk batang bawah yang digunakan adalah Japanese citrus. Pemilihan batang bawah dengan kondisi diameter sebesar pensil, tumbuhannya sehat, daunnya hijau segar, dengan kambium yang berair atau sedikit tebal. Hal ini karena kambium bertugas sebagai pengangkut makanan dari daun ke batang. Selain itu kambium juga sebagai perekat mata tunas dengan batang bawah. Sehingga kemungkinan okulasi dapat berhasil lebih banyak. 
  2. Memilih Batang Atas. Batang atas ini didapat dari screenhouse BPMT III dengan varietas  tanaman yang diinginkan seperti Varietas Tejakula. Dilakukan dengan mengambil bagian dari pohonnya yaitu bagian cabangnya. Pemilihan cabangnya yaitu yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Memiliki warna hijau tua segar. Cabang yang terlalu muda jika ditekan akan berair dan jika terlalu tua warnanya sudah kecoklatan sehingga tidak baik untuk okulasi. Dari satu cabang dapat menghasilkan beberapa mata tunas
  3. Pembuatan sayatan untuk tempat menempel mata tunas. Kegiatan okulasi ini membutuhkan pisau/silet tajam dan plastik untuk melekatkan mata tempelnya. Caranya menyayat bagian kambium batang bawah dengan sekali sayatan. Disinilah pentingnya menggunakan pisau/silet yang tajam dan steril meenggunakan alkohol 70%. 
  4. Kemudian memotong mata tunas yang diambil dari batang atas mengunakan pisau. Pemotongan mata tunas menggunakan metode sisip/irisan (Chip-budding).  Dimana batang atas (mata tempel/mata tunas) disayat sepanjang 1-2 cm sehingga kayu dan kulitnya ikut terambil dan menempel pada batang bawah. 
  5. Setelah menempel, kemudian dilekatkan menggunakan plastik. 
  6. Setelah okulasi, tanaman dibiarkan tumbuh selama 3-4 minggu. Jika mata tempel masih berwarna hijau berarti tempelan ini sudah ada keberhasilan hidup. Setelah 3 minggu plastik di buka menggunakan silet. Setelah di buka maka dilanjutkan dengan kegiatan merunduk. 
        Namun dalam proses okulasi tak jarang terjadinya kendala yang muncul yakni beberapa mata tempel hasil okulasi tidak tumbuh menjadi tanaman baru atau disebut dengan dormansi. Tidak jarang banyak mata tempel  yang ditemukan menuing, kering, dan bahkan mati. Dormansi terjadi akibat dari adanya ketidakseimbangan hormon mata tempel, dimana hormonal yang seimbang pada tempat penempelan tunas mempengaruhi laju pertumbuhan tunas. Semakin keras atau kuat batang bawah, sel-sel kambium semakin kurang aktif yang dapat menyebabkan lambatnya pertumbuhan tunas. Selain itu, biasanya terdapat tunas yang terlambat pecah atau tumbuh pada mata tempel yang erat kaitannya dengan kondisi dorman dari mata tempel pada pohon induk (Sugiyatno, 2016).







Sumber:
  1. Hartmann, H.T., Kester, D.E., Davies Jr., F.T. and Geneve, R.L. (2010) Plant Propagation: Principles and Practices. 8th Edition, Prentice-Hall, New Jersey, 915 p.
  2. Musthofa, M. I., Agus S., Tatik W. dan Mochammad R. 2019. The Effect Of Eye Scion Position On The Survival Budding Of Several Mandarin Citrus. Jurnal Produksi Tanaman. Vol. 7(5): 867–873
  3. Purba, J., Wahyuni, P., & Suarnaya, I. (2019). Pengaruh Posisi Buku Sumber Mata Tempel dan Konsentrasi Atonik terhadap Pertumbuhan bibit Okulasi Jeruk (Citrus sp) Varietas Keprok Tejakula. Agro Bali: Agricultural Journal. Vol.1 (1): 1-10. 10.37637/ab.v1i1.211. 
  4. Sugiyatno, A. 2016. Teknik Pematahan Dormansi Mata Tunas Jeruk dengan Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh. IPTEK Hortikultura.(12):1-6.

Tuesday, October 17, 2023

Aklimatisasi Tanaman Anggrek Bulan (Dendrobium sp.)

Aklimatisasi Tanaman Anggrek Bulan (Dendrobium sp.)


   
 Aklimatisasi adalah suatu tahap pengadaptasian plantlet yang dilakukan dari lingkungan in vitro (dalam botol) ke lingkungan baru (alamiah) di luar botol (Erfa L., Desi M., Rizka N. S., dan Yuriansyah. 2019.).Keberhasilan perbanyakan suatu tanaman yang dilakukan secara in vitro di laboratorium sangat bergantung pada tahap akhir perbanyakan tersebut yaitu aklimatisasi. Artinya bahwa tahap akhir ini yang menentukan apakah planlet akan berhasil tumbuh dan berkembang pada lingkungan di luar botol dengan baik. 

    Kegiatan Aklimati tanaman anggrek merupakan tahapan terakhir dalam proses kultur jaringan. Tujuan aklimatitasi ini adalah untuk mengadaptasi atau mengkondisikan sub kultur yang sebelumnya tumbuh di dalam botol (in vitro) agar selanjutnya dapat tumbuh dan berkembang di luar botol/ lingkungan alamiah. Hal ini sealan dengan pendapat Utami, dkk. 2022, aklimatisasi dilakukan untuk mempersiapkan planlet agar siap ditanam atau hidup pada kondisi lingkungan alamiah. 

Kriteria Planlet yang Siap Diaklimatisasi

Sebelum melakukan aklimatisasi, perlu memperhatikan karakteristik planlet yang siap untuk diaklimatisasi. Adapun beberapa kriteria planlet yang siap untuk diaklimatisasi adalah sebagai berikut: (Utami, dkk. 2022)

  1. Organ lengkap (akar, batang, daun).
  2. Pucuk batang berwarna hijau segar dan ‘mantap’ artinya tidak tembus pandang.
  3. Semua plantlet dalam botol terlihat kekar, tidak ada yang menguning atau bahkan mati. 
  4. Komposisi dari daun dan akar seimbang, pseudobulb atau umbi semu mulai terlihat dan sebagian kecil telah mengeluarkan tunas baru. 
  5. Terdapat jumlah akar serabut 3 – 4 akar dengan panjang 1,5 – 2,5 cm.
  6. Memiliki ukuran tinggi tanaman yang seragam, yakni 3 – 4 cm.

Tahapan Proses Aklimatisasi

    Dalam proses aklimatisasi yang dilakukan di taman anggrek, adapun beberapa tahapan dalam proses aklimatisasi yaitu sebagai berikut.  

  1. Mempersiapkan bibit yang siap di aklimatisasi. 
  2. Bibit dikeluarkan dari botol menggunakan pinset panjang. 
  3. Bibit yang sudah dikeluarkan, kemudian di bilas menggunakan air mengalir hingga bersih. 
  4. Setelah dibilas, bibit kemudian di keringkan atau ditiriskan. Bibit diletakkan di atas kertas hingga benar-benar kering. 
  5. Setelah kering, bibit di tata di dalam kompot. 
  6. Bibit dalam kompot di simpan dalam ruangan yang tertutup. 
  7. Setelah itu, bibit dipindahkan ke dalam rumah kasa. 
  8. Langkah berikutnya, bibit di single dengan moss ke dalam plastik kecil. 
  9. Bibit yang disingle, ditata di dalam kompot. 
  10. Seteleh itu, bibit single yang sudah tumbuh di dalam kompot di pindahkan ke dalam pot berukuran kecil. 
  11. Setelah bibit tumbuh besar, bibit dipindahkan ke dalam pot besar. 
  12. Langkah terakhir adalah perawatan tanaman dengan penyiraman dan pemupukan. 
        Pada kegiatan aklimatisasi, setelah dikeringkan di atas kertas tidak jarang banyak planlet yang mati. Hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan yang kurang mendukung sehingga menyebabkan pertumbuhan plantlet kurang baik. Kondisi lingkungan mikro plantlet juga yang tidak mendukung pertumbuhan plantlet sehingga menyebabkan plantlet akan mati (Erfa, et al. 2019). Hal ini sejalan dengan Utami, dkk. 2022, dalam tahap aklimatisasi ada beberapa hambatan yang dihadapi namun dapat diatasi dengan penggunaan media tanam yang tepat, sehingga perbanyakan tanaman anggrek bisa berhasil. 

 


Sumber: 

  1. Erfa L., Desi M., Rizka N. S., dan Yuriansyah. 2019. Success of Acclimatization and Enlargement of Compote Seeds Orchid Month (Phalaenopsis) on Some Combinations of Plant Media. Jurnal Penelitian Pertanian Terapan. Vol. 19 (2): 121-126  
  2. Utami, N. R., Margareta R., dkk. 2022. Aklimatisasi Anggrek Species Hasil Kultur Jaringan Melalui Pemberdayaan Masyarakat Dusun Gempol.  Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. 19 No. 1 (Edisi Khusus) Tahun 2022
Dokumentasi kegiatan: 
Gambar 1. Persiapan Bibit atau planlet Aklimatisasi
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 2. Kegiatan Pengeluaran Planlet dari dalam Botol
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 3. Planlet yang Sudah Dibersihkan dan Dicuci
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 4. Proses Pengeringan atau Penirisan Planlet 
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 5. Planlet yang Sudah Kering
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 6. Bibit Ditata dalam Kompot 
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)



Gambar 7. Bibit yang Sudah Ditata dalam Kompot dan Diberi Label
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)


Menyiang (Pengendalian Gulma) pada Tanaman

 Menyiang pada Bibit Tanaman 

            Menyiang merupakan salah satu teknik dalam pemeliharaan serta perawatan tanaman. Dalam pemeliharaan ada beberapa kegiatan yang dilakukan meliputi penyiraman, penyiangan dan pencegahan dari serangan hama dan penyakit (Dewi, E. S., Selvy H., dan Rosnina. 2016.: 20). 
        Menurut Jamilah, (2013) waktu pengendalian gulma harus tepat dilakukan. Hal ini karena disamping gulma sebagai inang beberapa hama penyakit, juga menimbulkan adanya kompetisi memperebutkan  unsur hara, air, ruang tempat tumbuh termasuk sinar matahari. Penyiangan yang tepat dilakukan setelah tanam menyebabkan kehadiran gulma pada periode kritis tidak menimbulkan persaingan yang tidak berarti sehingga pertumbuhan tanaman terutama pertambahan jumlah daun tidak terganggu (Tarigan dkk.,2013). Menurut Simamorah (2006) dalam Binolombangan, dkk. (2017) waktu penyiangan yang tepat akan mengurangi kehilangan hasil pertanaman akibat persaingan dengan gulma. 

Metode dalam Menyiang Tanaman

        Menyiang merupakan kegiatan membersihkan atau membuang gulma atau tanaman mengganggu agar tidak menggangu bibit tanaman yang sedang tumbuh. Ada beberapa metode yang digunakan dalam menyiang yaitu 
  1. Secara manual dengan tangan. cara manual ini dilakukan dengan mencabut gulma menggunakan tangan pada semua tanaman yang ditumbuhi gulma; 
  2. Secara Kimiawi dengan herbisida; dan
  3. Secara mekanis dengan mesin. 
        Di sini metode yang digunakan dalam menyiang adalah secara manual menggunakan tangan, karena jika dilakukan dengan kimiawi dapat mempengaruhi pertumbuhan calon bibit tanaman jeruk selain itu bibit tanaman jeruk juga di tanam pada polybag sehingga kurang efektif jika dilakukan dengan menggunakan mesin. Kegiatan menyiang dilakukan setiap 2-4 minggu sekali, ketika sudah terlihat ada gulma yang tumbuh disekitar bibit tanaman. Menyiang bertujuan untuk membersihkan bibit tanaman dari gulma (tanaman penganggu) yang merugikan, mengurangi kompetisi memperebutkan unsur hara, dan meningkatkan produktivitas bibit tanaman. 

Sumber: 

  1. Dewr, E. S., Selvy H., dan Rosnina. 2016. Teknologi Perbanyakan Tanaman Generatif & Vegetatif.  Aceh: Universitas Malikussaleh. 
  2. Binolombangan, R., Wawan P., dan Suyono D. 2017. Pengaruh Waktu Penyiangan Dan Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Nilam (Pogostemon Cablin Benth). JATT: Jurnal Agroteknotropika. Vol. 6(3) : 349 - 356.
  3. Jamilah. 2013. Effect of Weed Mowing and Planting System on Growth and Yield of Rice (Oryza sativa L.).Jurnal Agrista. Vol. 17(1): 28-35.
Dokumentasi Kegiatan: 
Gambar 1. Menyiang tanaman jeruk varietas Siem Kintamani 
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Gambar 2. Menyiang tanaman jeruk varietas Siem Kintamani 
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 3. Menyiang tanaman jeruk varietas Siem Kintamani 
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 4. Menyiang tanaman Durian Otong 
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Pembuatan Media Tanam

Pembuatan Media Tanam 

        Media tanam adalah substansi dimana tempat tumbuhnya akar tanaman, tempat mengekstrak unsur hara dan air (Landis et al. 2014). Menurut (Febriani, dkk. 2021) media tanam merupakan substrat atau kombinasi subtrat yang digunakan untuk menumbuhkan suatu tanaman. Jadi dapat disimpulkan bahwa media tanam merupakan suatu tempat atau subtrat serta kombinasi substrat yang berguna untuk menumbuhkan tanaman, mengekstrak unsur hara dan air. Faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan pada tanaman adalah media tanam. Setiap jenis tanaman memerlukan sifat dan karakteristik media tanam yang berbeda-beda tergantung jenis tanamannya.(Adiprasetyo, dkk. 2020)

Pembuatan Media Tanam Tanaman Cabai Rawit (Capsicum annuum L.) varietas Sret

        Menurut Harpenas & Dermawan (2010), tanaman cabai yang memiliki sifat tidak mengenal musim merupakan salah satu sifat tanaman cabai yang digemari oleh petani. Varietas yang banyak dibudidayakan dan digemari petani adalah varietas Sret, karena varietas ini cukup adaptif dan berdaya hasil tinggi (Arifin, et al. 2022).  Di UPTD. BPPSTPHBUN varietas tanaman cabai yang dibudidayakan adalah varietas Sret. Varietas cabai ini memang banyak ditemukan di daerah tabanan dan tidak sulit untuk melakukan perbanyakan pada jenis cabai ini. Tanaman cabai varietas Sret dirasa cocok untuk ditanam di kawasan yang kering (Arifin, et al. 2022). 


        Media tanam sangat penting bagi tanaman karena untuk tempat tanaman bertumbuh dan berkembang serta mendapatkan zat hara. Kegiatan pembibitan tanaman pasti membutuhkan media tanam karena media tanam merupakan komponen yang paling utama dalam proses pembibitan. Di UPTD. BPPSTPHBUN  tidak hanya pembibitan anggrek saja tetapi juga ada pembibitan tanaman cabai rawit (Capsicum annuum L.). Selain di laboratorium saya juga belajar cara membuat media tanam tanaman cabai rawit varieta Sret. Kegiatan ini saya dan rekan-rekan dibantu oleh 2 pegawai di taman anggrek. Media tanam yang digunakan berupa tanah subur yang dicampur dengan beberapa campuran komposisi didalamnya, yaitu antara lain: 

  • Tanah Subur (top soil)
  • Thricoderma
  • Pupuk kandang Sapi 
  • Sekam 

Proses Pembuatan Media: 

     Cara pembuatan media taman untuk pembibitan tanaman cabai terbilang cukup mudah untuk dilakukan, hanya dengan mencampurkan tanah dengan 3 komposis lainya. Lebih lengkapnya, kegiatan yang dilaksanakan sebagai berikut: 

  1. Menyiapkan media tanam berupa tanah subur yang dicampur dengan sekam padi dan ditambah dengan pupuk. Tujuannya adalah supaya media tanam tidak padat dan bibit tanaman cabai dapat nutrisi air yang cukup hingga ke akarnya. 
  2. Setelah itu memilih bibit tanaman cabai yang unggul dengan ukuran yang sudah besar dengan kondisi batang yang tegak lurus dan sehat. Bibit tanaman cabai yang kuning dan kecil tidak digunakan. 
  3. Kemudian tanah dicampur menggunakan pupuk kandang khusunya kotoran sapi. Kotoran sapi yang sudah kering. Dengan perbandingan 2:1 untuk mempercepat pertumbuhan bibit tanaman cabai. Pupuk kandang kotoran sapi bermanfaat dalam menambah ketersediaan hara pada media tanam serta mampu meningkatkan porositas tanah dan kemampuan media tanam dalam menyimpan ketersediaan air (Sugianto dan Kamelia 2021). 
  4. Lalu dicampur dengan thricoderma. Tujuannya untuk pengendali jamur patogen, trichoderma memiliki beberapa manfaat yang lain seperti biofungisida, dimana sebagai fungisida hayati yang bermanfaat dalam mengendalikan jamur patogen.
  5. Kemudian menyiapkan polybag besar yang sudah diisi setengah nya dengan tanah subur yang sudah dicampur dengan pupuk dan sekam.
  6. Memindahkan bibit cabai ke dalam polybag besar dengan hati-hati dan diisi lagi menggunakan tanah subur hingga volumenya memenuhi permukaan polybag. 
  7. Kegiatan ini terus diulangi hingga semua bibit tanaman cabai habis.

Gambar 1. Media Tanam Tanaman Cabai varietas Sret
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Popular Posts

Recent Posts

Widget

Copyright © Pengalaman Magang di UPTD BPPSTPHBUN LUWUS | Powered by Blogger
Design by Viva Themes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com