Showing posts with label Perbanyakan Tanaman. Show all posts
Showing posts with label Perbanyakan Tanaman. Show all posts

Wednesday, November 1, 2023

Mengoker: Tujuan, Kegunaan, dan Prosedur Kerja Mengoker Jeruk Tejakula (Citrus reticulata var. Tejakula)

 Mengoker Jeruk Tejakula dari Bedengan menggunakan Alat Khusus dan dipindahkan ke Polybag

    Istilah mengoker merupakan pengambilan bibit tanaman yang sudah siap disalurkan (setelah mendapatkan label) menggunakan alat khusus. Pengambilan bibit dilakukan apabila perbanyakan benih dilakukan di lahan dengan pembuatan bedengan (gundukan) yang kemudian bibit tersebut dipindahkan ke polybag. 

Tujuan Kegiatan Mengoker Jeruk Tejakula (Citrus reticulata var. Tejakula)

    Pemindahan bibit tanaman ke dalam media tanam pada polybag biasanya dikenal dengan replanting (Parwati, Y. 2020). Di Lahan UPTD. BPPSTPHBUN okulasi bibit tanaman yang sudah mencapai umur 3 bulan untuk perbanyaka yang dilakukan menggunakan bedengan nantinya akan dipindahkan ke polybag untuk siap di salurkan ke masyarakat.

Kegunaan Kegiatan Mengoker Jeruk Tejakula (Citrus reticulata var. Tejakula)

  • Meningkatkan ruang tumbuh tanaman jeruk. Karena dengan pemindahan tanaman ke dalam polybag memberikan ruang tumbuh yang lebih besar.
  • Untuk meningkatkan estetika dan menambah nilai jual tanaman jeruk. 
  • Memudahkan penyaluran bibit tanaman jeruk. Biasanya bibit tanaman jeruk dijual menggunakan polybag-polybag. Hal ini memudahkan bagi penjual untuk menyalurkan bibit. 

Prosedur Kerja Mengoker Jeruk Tejakula (Citrus reticulata var. Tejakula)

    Kegiatan ini dilakukan apabila tanaman jeruk yang ditanam pada bedengan, karena kegiatan ini merupakan kegiatan pemindahan bibit tanaman jeruk ke dalam polybag. Menurut petani yang bekerja di lahan, tidak semua bibit tanaman jeruk dapat dipindahkan ke dalam polybag, terdapat beberapa kriteria untuk memindahkan bibit yang baik, antara lain:

  1. Kondisi tanaman jeruk sehat. 
  2. Mata tempel sudah tumbuh tinggi dan berkembang menjadi bibit tanaman.
  3. Warnanya sudah hijau tua, jika warna daun dan batangnya masih hijau mudah belum bisa di pindahkan ke polybag.
  4. Memiliki batang yang hijau, kuat, dan kokoh.

    Setelah memilih tanaman jeruk yang siap di pindahkan, barulah tanaman diambil dengan cara di cungkil menggunakan alat khusus berupa linggis dengan kedalaman 10cm kemudian jika perakarannya masih panjang maka di potong. Proses ini dilakukan di sekitar tanaman (disamping-samping bibit tanaman yang akan diambil) hingga membentuk setengah lingkaran kemudian diakhir di cungkil kembali hingga tanaman dan tanahnya tercabut. Menurut petani, tanahnya tidak boleh pecah saat proses pengambilan atau, karena dapat menyebabkan kematian pada bibit tanaman. Diusahakan tanah dan bibit tanamannya tetap menyatu. Namun untuk tanaman jeruk lebih tahan ketika tanahnya pecah dari pada tnaamn durian. Akan tetapi harus segera dipindahkan ke media tanam yang baru dan segera disiram agar bibit tanaman jeruk tidak cepat layu dan mati. 

Sumber: 

  1. Parwati, Y. N. K. 2020. Diskusi Pemindahan Bibit Tanaman. https://kkn.undiksha.ac.id/blog/diskusi-pemindahan-bibit-ke-polybag [Diakses pada 01 November 2023].

Dokumentasi Kegiatan: 

Gambar 1. Kegiatan Mengoker 
(Dokumentasi Pribadi)

Gambar 2. Kegiatan Pemindahan Bibit Tanaman ke Media Tanam Baru 
(Dokumentasi Pribadi)

Gambar 3. Kegiatan Pemindahan Bibit Tanaman ke Media Tanam Baru 
(Dokumentasi Pribadi)


Tuesday, October 31, 2023

Perbanyakan tanaman Durian Otong: Okulasi Durian Otong dengan Sambung samping?

Okulasi Tanaman Durian Otong: Perbanyakan tanaman Durian Otong dengan Sambung samping?

    Teknik perbanyakan vegetatif yang dilakukan secara okulasi dapat melalui penggabungan antara batang atas (mata tempel) atau entres dengan batang bawah (rootstock) yang mempunyai karakteristik atau sifat yang berbeda-beda (Yanengga & Tuhuteru, 2020). Menurut Savitri & Afrah, 2019, teknik perbanyakan vegetatif buatan melalui metode sambungan berperan dalam  memperoleh sifat-sifat dari tetua, memperoleh tanaman yang kokoh, serta memperbaiki jenis tanaman yang sesuai dengan keingingan,  hal ini dapat mempercepat pertumbuhan dan  batang yang dihasilkan tegak serta pohon berbuah. Adapun macam-macam teknik sambungan yaitu sambung sisip (sambung samping) dan sambung pucukKeberhasilan okulasi (grafting) salah satunya dapat dilihat dari munculnya tunas baru dari tunas tempel saat umur 2-3 minggu setelah dilakukannya okulasi (grafting) (Rahmatika, Widyana, and Fajar S., 2018).

Persiapan Batang Bawah Durian Otong:  dengan pembibitan durian lokal



    Sebelum okulasi tanaman durian, dilakukan pembibitan dengan menanam bibit durian sebagai batang bawah untuk nantinya ditempelkan dengan entres durian yang dipilih. Untuk batang bawah, varietas durian yang digunakan adalah durian lokal, karena durian lokal resisten terhadap hama penyakit, lebih kuat, kokoh, lebih mudah dikembangkan, kemampuan hidupnya lebih tinggi. Langkah kerja yang harus dilakukan adalah: 
  1. Memilih biji durian lokal yang baik, memiliki bentuk yang bulat, tidak kisut atau peset atau mengkerut, tidak rusak, kulit biji tidak robek, dan kualitas biji yang baik. 
  2. Setelah memilih biji yang baik, kemudian biji di cuci menggunakan air mengalir hingga terpisah dari daging buahnya. karena jika daging buah masih menempel pada biji kemungkinan terjadi kontaminasi jamur pada bibit tanaman, yang menyebabkan bibit tidak mau tumbuh, busuk, bahkan mati. 
  3. Kemudian, biji yang sudah dicuci, dikeringkan dan ditanam pada media tanam yang sudah disiapkan sebelumnya. Biji ditanam dengan membenamkan sebagian biji ke dalam tanah dan sebagian lagi muncul kepermukaan tanah.hal ini bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan dan meminimalisir terjadinya kontaminasi jamur. Karena apabila dibenamkan seluruh biji ke dalam tanah pertumbuhannya lambat bahkan biji dapat mengalami dormansi. Biji dapat ditanam pada polybag dan juga pada media tanam bedengan di lahan. 
  4. Setelah ditanam, biji di siram dan umur 2-3 minggu biji sudah mulai tumbuh. Untuk mencapai panjang 30 cm atau siap untuk di okulasi membutuhkan waktu selama 3-4 bulan, tergantung pertumbuhan dari tanaman durian lokal. 
  5. Selanjutnya masuk ke tahap okulasi tanaman durian. 

Okulasi Durian variertas Otong (Durio zibethinus murr)

    Teknik Okulasi yang diterapkan di kebun Luwus untuk jenis tanaman durian adalah teknik sambung samping. Teknik sambung samping merupakan modifikasi teknik okulasi. Pelaksanaan teknik sambung samping yaitu sebagai berikut,

  1. Palaksanaan penyambungan diawali dengan mempersiapkan alat berupa pisau tajam atau cutter, alkohol 70%, dan plastik.
  2. Pelaksanaan penyambungan diawali juga dengan menyiapkan entres dari tanaman durian varietas Otong. Pengambilan entres dari pohon induk dengan memperhatikan pucuk daun dengan memilih daun yang tidka terlalu tua dan tidak terlalu muda, daun nya tidak terserang penyakit atau bintik-bintik (bercak-bercak), memilih pucuk yang tidak ada percabangan lagi dibagian pucuknya, selain itu harus terdapat tunas kecil yang tumbuh di ketiak daunnya karena tunas tersebut yang akan disambungkan pada batang bawah. 
  3. Selanjutnya, membuat jendela sambungan pada batang bawah dengan ukuran 1 jengkal atau 20 cm dari tanah. Caranya dengan menyayat kulit batang bawah mendatar dan menurun seperti huruf T kemudian kulit batangnya di buka. Setelah dibuah, kemudian dibuat sayatan  kedua lagi di atas jendela sayatan pertama dengan teknik sayat samping sekitar 2 cm. 
  4. Kemudian menyayat entres meruncing agar mudah di tempelkan pada batang bawah. 
  5. Penyambungan dilakukan dengan menyisipkan entres yang sudah diruncingkan ke dalam jendela sambungan hingga benar-benar tersisipi dan tidak goyang. 
  6. Selanjutnya, sambungan diikat dengan plastik okulasi yang dimulai dari bagian bawah keatas secara rapat. Tujuannya agar air tidak masuk ke dalam sambungan, dan mencegah terjadinya kontaminasi dan kegagalan pada sambungan durian. 
  7. Setelah umur 2-3 minggu jika ciri-ciri sambungan berwarna coklat tua, tidak ada perkembangan pada mata tunas di sambungannya yang artinya entres mati atau gagal berkembang. Sedangkan jika setelah 2-3 minggu ada pertumbuhan dari tunasnya berarti okulasi berhasil. 
  8. Selajutnya untuk pemeliharaan tanaman dilakukan dengan cara yakni meliputi penyiraman, penyiangan gulma dan pengendalian OPT atau hama penyakit. 

Sumber:

  1. Fitriyanto,I. A., Karno, dan B. A. Kristanto. 2019. The success of side grafting of durian plants due to the concentration of IAA (Indole Acetic Acid) and different age of rootstock). J. Agro Complex. 3(3):166-173.
  2. Hartmann, H.T., Kester, D.E., Davies Jr., F.T. and Geneve, R.L. (2010) Plant Propagation: Principles and Practices. 8th Edition, Prentice-Hall, New Jersey, 915 p.
  3. Lukman, L. 2021. Buku Lapang Budidaya Durian. Jakarta: Direktorat Buah dan Florikultura. 
  4. Savitri, & Afrah. (2019). Aplikasi Teknik Sambung Pucuk (Top Grafting) Untuk Perbanyakan Tanaman Durian (durio zibethinus murr). 3(1), 40–47.
  5. Rahmatika, Widyana, and Fajar Setyawan. "Kompatibilitas Batang Bawah dengan Batang Atas pada Metode Grafting Tanaman Durian (Durio Zibethinus Murr)." Agritrop, vol. 16, no. 2, 2018, pp. 268-275, doi:10.32528/agritrop.v16i2.1810. 
  6. Yanengga, Y., & Tuhuteru, S. (2020). Pemanfaatan Pupuk Organik Cair Nasa dalam Meningkatkan Produktivitas Bawang Merah di Daerah Wamena. Agroteknika, 3(2), 85–98. https://doi.org/10.32530/agroteknika.v3i2.78


Dokumentasi: 

Gambar 1. Pembuatan Sayatan Pertama pada Batang Bawah dengan Cara Mendatar dan Menurun seperti Huruf T



Gambar 2. Mempersiapkan entres, Menyayat entres dan Menyisipkan atau Menempelkan pada Batang Bawah.

Gambar 3. Mengikat Entres Menggunakan Plastik dari Bawah Keatas.

Gambar 4. Kegiatan Okulasi dengan Media Tanam di polybag

Gambar 4. Kegiatan Okulasi bersama Petani


Wednesday, October 18, 2023

Okulasi Tanaman Jeruk Tejakula

 Okulasi Tanaman Jeruk Tejakula (Citrus reticulata var. Tejakula)

        Terdapat beberapa variasi metode yang bisa dilakukan dalam perbanyakan tanaman jeruk seperti stek, cangkok, grafting, dan okulasi (Musthofa, et al. 2019). Di Indonesia sendiri, dalam perbanyakan tanaman salah satu metode yang dilakukan adalah dengan okulasi. begitu pula dengan di tempat magang yakni UPTD. BPPSTPHBUN. Okulasi merupakan penempelan dua sifat tanaman yang memiliki sifat baik. Menurut Musthofa, et al. (2019), okulasi sebagai kegiatan yang pengabungan antara sifat unggul yang dimiliki oleh batang atas dengan sifat unggul yang dimiliki oleh batang bawah. 

        Salah satu kegiatan perbanyakan yang dilakukan di UPTD. BPPSTPHBUN ini adalah menggunakan teknik okulasi. Okulasi merupakan sebuah teknik perbanyakan pada tanaman secara vegetatif. Okulasi ini dapat dilakukan pada tanaman jeruk. Teknik okulasi ini dilakukan dengan menggabungkan atau menempelkan tanaman yang masih dalam satu spesies tanaman. Dari observasi yang saya lakukan dengan melihat petani melakukan okulasi, okulasi baik dilakukan di pagi hari pada pukul 07:00-10:00 karena di pagi hari biasanya tumbuhan melakukan proses fotosintesis. 

Kriteria Okulasi

    Sebelum melakukan okulasi pada tanaman jeruk, tentunya ada beberapa kriteria atau syarat yang harus dilakukan untuk menghasilkan bibit tanaman jeruk baik. 
  1. Pengaruh Letak Mata Tempel. Dalam pertumbuhan mata tempel, panjang batang atas sangat mempengaruhi hasil okulasi. Semakin panjang tunas batang atas maka semakin banyak jumlah daun batang atas yang dihasilkan. Karena semakin banyak jumlah daun maka proses fotosintesis akan semakin meningkat, hal ini menyebabkan lebih banyak terbentuknya asimilat. (Purba, J., Wahyuni, P., & Suarnaya, I. 2019). batang bawah yang digunakan dalam menempel mata tempel harus memiliki kambium yang sedikit tebal dan berair dengan diameter sebesar pencil. Posisi buku sumber mata tempel yang optimal adalah bagian tengah karena penampangnya berbentuk bulat dan banyak terdapat kambium. Oleh sebab itu dalam tahap awal pertumbuhan mata tempel, sel-selnya juga aktif dalam pertumbuhan.
  2. Mutu Mata Tempel. Mata tempel yang baik adalah mata tempel pada bagian pangkal ranting tidak dipakai (mata tunas dorman) sebab memiliki karakteristik kulit yang tipis dan cenderung berkayu, pada bagian ujung ranting mata tempel yang masih muda yang masih berbentuk relatif pipih dengan kadar air yang banyak (Purba, J., Wahyuni, P., & Suarnaya, I. 2019). 
  3. Alat yang digunakan harus steril. Alat yang digunakan dalam proses okulasi yakni pisau atau cutter yang tajam dan steril. Hal ini bertujuan agar tidak terjadinya kontaminasi atau pembusukan pada tunas mata tempel. 

(Cara Okulati Tanaman Jeruk Tejakula)
Dokumentasi pribadi 

    Dalam perbanyakan tanaman, terdapat beberapa jenis okulasi (grafting)Budding merupakan salah satu bentuk okulasi di mana batang atas terdiri dari tunas tunggal (single bud) dan bagian kecil kulit kayu  atau tanpa kayu. Terdapat dua teknik okulasi yang lebih sederhana yang dapat dilakukan yaitu Chip budding dan T-budding (Shield Budding)yang merupakan teknik yang paling penting bagi tanaman hias dan pohon buah. Chip budding dan T-budding jauh lebih sederhana dan, karenanya, jauh lebih cepat daripada teknik okulasi manual (Hartmann, H.T., et al. 2010: 484). 

 Prosedur Kerja Okulasi Jeruk Varietas Tejakula

    Teknik okulasi pada tanaman jeruk yang diterapkan di kebun luwus yakni mengugnakan teknik Chip Budding. Teknik chip budding adalah teknik primary budding yang banyak digunakan untuk pohon berkayu, pohon berbuah, semak, tanaman hias dan masih banyak lagi. Teknik ini umumnya diterapkan di batang bawah, dengan diameter batang 13-25mm.  Chip pada kulit kayu dihilangkan pada bagian kulit yang halus diantara buku (node) dekat pangkal batang bawah yang nantinnya akan digantikan dengan chip yang baru dengan ukuran dan bentuk yang sama dari batang atas (Hartmann, H.T., et al. 2010: 484).
  • Pada batang atas (budstick) potonggan pertama kali dilakukan tepat dibagian tunas yang akan digunakan dengan kemiringan sudut 30-45 derajat. Untuk potongan kedua dimulai sekitar 25 mm diatas bagian tunas dan masuk kedalam dan kebawah dibelakang tunas tempel sampai memotong potongan pertama. 
  • Kulit batang bawah (rootstock) lebih tebal sehingga lapisan kambium pada tunas tempel harus ditempelkan bertepatan dengan bagian yang disayat, lebih baik mengenai kedua sisi kambium batang bawah, namun setidaknya mengenai satu sisinya. Sayatan sama dengan perlakukan pada batang atas. 
  • Pembungkusan okulasi harus dilakukan untuk menutup bagian yang disayat dan untuk menahan agar sayatan tunas di batang bawah lebih erat sehingga tunas tempel tidak cepat kering (dry out). Pembungkusan memang harus segera dilakukan untuk menghindari kekeringan pada tunas tempel. Apabila tunas tempel sudah mulai tumbuh, maka plastik pembungkus harus segera dilepaskan. 
Gambar 1. Teknik Chip Budding
(Sumber: Hartmann, H.T., Kester, D.E., Davies Jr., F.T. and Geneve, R.L. (2010):492)


https://propg.ifas.ufl.edu/images/06-grafting/03-buddingtypes/graftingbudchip/image9.jpg
Gambar 2. Teknik Chip Budding
(Sumber:https://propg.ifas.ufl.edu/06-grafting/03-buddingtypes/02-grafting-budchip.html dan https://www.ndsu.edu/pubweb/chiwonlee/plsc368/student/papers02/maasheim/appleprop.htm)


    Menurut Bapak Wayan Suartana, dalam melakukan okulasi membutuhkan batang bawah untuk menempel mata tunas tanaman Jeruk Tejakula. Cara melakukan okulasi yaitu sebagai berikut: 
  1. Memilih Batang Bawah. Varietas tanaman jeruk untuk batang bawah yang digunakan adalah Japanese citrus. Pemilihan batang bawah dengan kondisi diameter sebesar pensil, tumbuhannya sehat, daunnya hijau segar, dengan kambium yang berair atau sedikit tebal. Hal ini karena kambium bertugas sebagai pengangkut makanan dari daun ke batang. Selain itu kambium juga sebagai perekat mata tunas dengan batang bawah. Sehingga kemungkinan okulasi dapat berhasil lebih banyak. 
  2. Memilih Batang Atas. Batang atas ini didapat dari screenhouse BPMT III dengan varietas  tanaman yang diinginkan seperti Varietas Tejakula. Dilakukan dengan mengambil bagian dari pohonnya yaitu bagian cabangnya. Pemilihan cabangnya yaitu yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Memiliki warna hijau tua segar. Cabang yang terlalu muda jika ditekan akan berair dan jika terlalu tua warnanya sudah kecoklatan sehingga tidak baik untuk okulasi. Dari satu cabang dapat menghasilkan beberapa mata tunas
  3. Pembuatan sayatan untuk tempat menempel mata tunas. Kegiatan okulasi ini membutuhkan pisau/silet tajam dan plastik untuk melekatkan mata tempelnya. Caranya menyayat bagian kambium batang bawah dengan sekali sayatan. Disinilah pentingnya menggunakan pisau/silet yang tajam dan steril meenggunakan alkohol 70%. 
  4. Kemudian memotong mata tunas yang diambil dari batang atas mengunakan pisau. Pemotongan mata tunas menggunakan metode sisip/irisan (Chip-budding).  Dimana batang atas (mata tempel/mata tunas) disayat sepanjang 1-2 cm sehingga kayu dan kulitnya ikut terambil dan menempel pada batang bawah. 
  5. Setelah menempel, kemudian dilekatkan menggunakan plastik. 
  6. Setelah okulasi, tanaman dibiarkan tumbuh selama 3-4 minggu. Jika mata tempel masih berwarna hijau berarti tempelan ini sudah ada keberhasilan hidup. Setelah 3 minggu plastik di buka menggunakan silet. Setelah di buka maka dilanjutkan dengan kegiatan merunduk. 
        Namun dalam proses okulasi tak jarang terjadinya kendala yang muncul yakni beberapa mata tempel hasil okulasi tidak tumbuh menjadi tanaman baru atau disebut dengan dormansi. Tidak jarang banyak mata tempel  yang ditemukan menuing, kering, dan bahkan mati. Dormansi terjadi akibat dari adanya ketidakseimbangan hormon mata tempel, dimana hormonal yang seimbang pada tempat penempelan tunas mempengaruhi laju pertumbuhan tunas. Semakin keras atau kuat batang bawah, sel-sel kambium semakin kurang aktif yang dapat menyebabkan lambatnya pertumbuhan tunas. Selain itu, biasanya terdapat tunas yang terlambat pecah atau tumbuh pada mata tempel yang erat kaitannya dengan kondisi dorman dari mata tempel pada pohon induk (Sugiyatno, 2016).







Sumber:
  1. Hartmann, H.T., Kester, D.E., Davies Jr., F.T. and Geneve, R.L. (2010) Plant Propagation: Principles and Practices. 8th Edition, Prentice-Hall, New Jersey, 915 p.
  2. Musthofa, M. I., Agus S., Tatik W. dan Mochammad R. 2019. The Effect Of Eye Scion Position On The Survival Budding Of Several Mandarin Citrus. Jurnal Produksi Tanaman. Vol. 7(5): 867–873
  3. Purba, J., Wahyuni, P., & Suarnaya, I. (2019). Pengaruh Posisi Buku Sumber Mata Tempel dan Konsentrasi Atonik terhadap Pertumbuhan bibit Okulasi Jeruk (Citrus sp) Varietas Keprok Tejakula. Agro Bali: Agricultural Journal. Vol.1 (1): 1-10. 10.37637/ab.v1i1.211. 
  4. Sugiyatno, A. 2016. Teknik Pematahan Dormansi Mata Tunas Jeruk dengan Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh. IPTEK Hortikultura.(12):1-6.

Tuesday, October 17, 2023

Aklimatisasi Tanaman Anggrek Bulan (Dendrobium sp.)

Aklimatisasi Tanaman Anggrek Bulan (Dendrobium sp.)


   
 Aklimatisasi adalah suatu tahap pengadaptasian plantlet yang dilakukan dari lingkungan in vitro (dalam botol) ke lingkungan baru (alamiah) di luar botol (Erfa L., Desi M., Rizka N. S., dan Yuriansyah. 2019.).Keberhasilan perbanyakan suatu tanaman yang dilakukan secara in vitro di laboratorium sangat bergantung pada tahap akhir perbanyakan tersebut yaitu aklimatisasi. Artinya bahwa tahap akhir ini yang menentukan apakah planlet akan berhasil tumbuh dan berkembang pada lingkungan di luar botol dengan baik. 

    Kegiatan Aklimati tanaman anggrek merupakan tahapan terakhir dalam proses kultur jaringan. Tujuan aklimatitasi ini adalah untuk mengadaptasi atau mengkondisikan sub kultur yang sebelumnya tumbuh di dalam botol (in vitro) agar selanjutnya dapat tumbuh dan berkembang di luar botol/ lingkungan alamiah. Hal ini sealan dengan pendapat Utami, dkk. 2022, aklimatisasi dilakukan untuk mempersiapkan planlet agar siap ditanam atau hidup pada kondisi lingkungan alamiah. 

Kriteria Planlet yang Siap Diaklimatisasi

Sebelum melakukan aklimatisasi, perlu memperhatikan karakteristik planlet yang siap untuk diaklimatisasi. Adapun beberapa kriteria planlet yang siap untuk diaklimatisasi adalah sebagai berikut: (Utami, dkk. 2022)

  1. Organ lengkap (akar, batang, daun).
  2. Pucuk batang berwarna hijau segar dan ‘mantap’ artinya tidak tembus pandang.
  3. Semua plantlet dalam botol terlihat kekar, tidak ada yang menguning atau bahkan mati. 
  4. Komposisi dari daun dan akar seimbang, pseudobulb atau umbi semu mulai terlihat dan sebagian kecil telah mengeluarkan tunas baru. 
  5. Terdapat jumlah akar serabut 3 – 4 akar dengan panjang 1,5 – 2,5 cm.
  6. Memiliki ukuran tinggi tanaman yang seragam, yakni 3 – 4 cm.

Tahapan Proses Aklimatisasi

    Dalam proses aklimatisasi yang dilakukan di taman anggrek, adapun beberapa tahapan dalam proses aklimatisasi yaitu sebagai berikut.  

  1. Mempersiapkan bibit yang siap di aklimatisasi. 
  2. Bibit dikeluarkan dari botol menggunakan pinset panjang. 
  3. Bibit yang sudah dikeluarkan, kemudian di bilas menggunakan air mengalir hingga bersih. 
  4. Setelah dibilas, bibit kemudian di keringkan atau ditiriskan. Bibit diletakkan di atas kertas hingga benar-benar kering. 
  5. Setelah kering, bibit di tata di dalam kompot. 
  6. Bibit dalam kompot di simpan dalam ruangan yang tertutup. 
  7. Setelah itu, bibit dipindahkan ke dalam rumah kasa. 
  8. Langkah berikutnya, bibit di single dengan moss ke dalam plastik kecil. 
  9. Bibit yang disingle, ditata di dalam kompot. 
  10. Seteleh itu, bibit single yang sudah tumbuh di dalam kompot di pindahkan ke dalam pot berukuran kecil. 
  11. Setelah bibit tumbuh besar, bibit dipindahkan ke dalam pot besar. 
  12. Langkah terakhir adalah perawatan tanaman dengan penyiraman dan pemupukan. 
        Pada kegiatan aklimatisasi, setelah dikeringkan di atas kertas tidak jarang banyak planlet yang mati. Hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan yang kurang mendukung sehingga menyebabkan pertumbuhan plantlet kurang baik. Kondisi lingkungan mikro plantlet juga yang tidak mendukung pertumbuhan plantlet sehingga menyebabkan plantlet akan mati (Erfa, et al. 2019). Hal ini sejalan dengan Utami, dkk. 2022, dalam tahap aklimatisasi ada beberapa hambatan yang dihadapi namun dapat diatasi dengan penggunaan media tanam yang tepat, sehingga perbanyakan tanaman anggrek bisa berhasil. 

 


Sumber: 

  1. Erfa L., Desi M., Rizka N. S., dan Yuriansyah. 2019. Success of Acclimatization and Enlargement of Compote Seeds Orchid Month (Phalaenopsis) on Some Combinations of Plant Media. Jurnal Penelitian Pertanian Terapan. Vol. 19 (2): 121-126  
  2. Utami, N. R., Margareta R., dkk. 2022. Aklimatisasi Anggrek Species Hasil Kultur Jaringan Melalui Pemberdayaan Masyarakat Dusun Gempol.  Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. 19 No. 1 (Edisi Khusus) Tahun 2022
Dokumentasi kegiatan: 
Gambar 1. Persiapan Bibit atau planlet Aklimatisasi
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 2. Kegiatan Pengeluaran Planlet dari dalam Botol
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 3. Planlet yang Sudah Dibersihkan dan Dicuci
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 4. Proses Pengeringan atau Penirisan Planlet 
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 5. Planlet yang Sudah Kering
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 6. Bibit Ditata dalam Kompot 
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)



Gambar 7. Bibit yang Sudah Ditata dalam Kompot dan Diberi Label
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)


Monday, October 16, 2023

Kultur Jaringan Anggrek Bulan (Dendrobium sp.)

 Kultur Jaringan dan Multipikasi Tanaman Anggrek Bulan (Dendrobium sp.) Secara In Vitro

    Kultur Jaringan merupakan suatu teknik budidaya perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan metode non-konvensional. Kultur jaringan melibatkan pertumbuhan dan perkembangan dari jaringan atau organ tanaman yang dilakukan secara in vitro (dalam botol), yang artinya dilakukan di luar lingkungan alaminya dimana dilakukan di dalam sebuah wadah kultur yang terkontrol. Pada proses kultur jaringan terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan, antara lain (1) pembuatan media agar; (2) pemilihan tanaman induk (eksplan); (3) Sterilisasi; (4) Multiplikasi; (5) Pengakaran; (6) Aklimatisasi; (7) Penanaman di lapangan (Arti, 2023). 
    
    Kegiatan kultur jaringan dilakukan di laboratorium. di UPTD. BPPSTPHBUN terdapat satu laboratorium anggrek yang memang digunakan untuk perbanyakan tanaman anggrek. Di laboratorium ini saya belajar kultur jaringan berasama dengan Ibu Kadek Dwi sebagai laboran. Beliau mengajarkan cara untuk memperbanyak sub kultur ke dalam media tanam yang baru. Kegiatan ini dinamakan multiplikasi sub kultur. Karena saat ini tanaman anggrek belum menghasilkan buah, sehingga kegiatan yang dilakukan adalah multiplikasi sub kultur secara in vitro. Karena baru pertama kali melakukan kultur jaringan, saya diajarkan prosedur kerja mulai dari menyiapkan alat dan bahan serta langkah kerja yang harus dilakukan. Salah satu pegawai mendemontrasikan langkah kerja yang harus dilakukan setelah itu barulah saya dan rekan-rekan yang lainnya mempraktikan setelahnya. 

Berikut merupakan video demontrasi kegiatan multiplikasi sub kultur tanaman anggrek bulan (Dendrobium sp.): 
(Demontrasi kultur jaringan)
dokumentasi pribadi

    Berdasarkan atas demontrasi dan video diatas, adapun alat dan bahan serta langkah kerja atau prosedur kerja yang dilakukan yaitu sebgai berikut:

Alat dan bahan 

  1. Petry dish (Cawan petri) 6 buah
  2. Pinset besar 1 buah
  3. Pinset kecil 1 buah 
  4. Spatula 1 buah
  5. Pisau kecil 1 buah
  6. Gunting 1 buah
  7. Kapas secukupnya
  8. Spiritus
  9. Media tanam secukupnya 
  10. Botol dan penutup karet


Prosedur kerja: 

  1. Menghidupkan Laminar air flow selama 30 menit sebelum digunakan. 
  2. Menyiapkan alkohol 70% untuk strerilisasi alat kultur jaringan
  3. Pinset besar dan kecil, spatula dan gunting distrerilisasi di api bunsen. 
  4. Setiap mau menggunakan alat harus di strerilisasi di api dan alkohol di rendam
  5. Cawan petri di strerilisasi di api bunsen
  6. Kapas di lilit di spatula dan dimasukkan ke dalam alkohol 70%. 
  7. Setelah itu siapkan tanaman kultur jaringan
  8. Buka tutup dan keluarkan tanaman dari dalam botol menggunakan pinset yang streril dipindahkan ke dalam cawan petri dan ditutup kembali
  9. Kemudian sub kultur yang sudah di pindahkan ke cawan petri di potong kecil kecil di perbanyak. Dipindahkan ke cawan petri yang satunya. Hingga sub kultur habis. 
  10. Kemudian ambil botol media tanam dan sub kultur di tanam pada botol media tanam yang baru. 
  11. Setelah seluruh sub kultur di tanam pada media tanam yang baru, kemudian di beri label dan di-wrap menggunakan plastic wrap bening. Lalu disimpan dalam ruangan yang streril. 
  12. Setelah selesai kegiatan praktikum, selanjutnya mematikan blower laminar air flow terlebih dahulu, kemudian mematikan mesinnya.  
  13. Membersihkan alat yang digunakan menggunakan sabun dan alkohol kemudian disimpan dalam keranjang
  14. Botol-botol kultur yang berisi sub kultur disusun di rak-rak kultur yang ada di dalam ruang inkubasi. 
  15. Selama masa inkubasi, dilakukan pengamatan terhadap kultur setiap minggu sekali. 
Sumber: 
  1. Arti, L. T. dan Mukarlina. (2017). Multiplikasi Anggrek Bulan (Dendrobium sp.) Dengan Penambahan Ekstrak Taoge Dan Benzyl Amino Purine (BAP) Secara InVitro. Protobiont Vol. 6 (3) : 278 – 282. 
  2. Sari, A. M. 2023. Kultur Jaringan: Tahapan dan Manfaatnya. Fakultas Pertanian. https://faperta.umsu.ac.id/2023/06/29/kultur-jaringan-tahapan-dan-manfaatnya/ [Diakses pada 17 Oktober 2023]. 

Dokumentasi kegiatan: 
 


Popular Posts

Recent Posts

Widget

Copyright © Pengalaman Magang di UPTD BPPSTPHBUN LUWUS | Powered by Blogger
Design by Viva Themes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com