Wednesday, October 18, 2023

Okulasi Tanaman Jeruk Tejakula

 Okulasi Tanaman Jeruk Tejakula (Citrus reticulata var. Tejakula)

        Terdapat beberapa variasi metode yang bisa dilakukan dalam perbanyakan tanaman jeruk seperti stek, cangkok, grafting, dan okulasi (Musthofa, et al. 2019). Di Indonesia sendiri, dalam perbanyakan tanaman salah satu metode yang dilakukan adalah dengan okulasi. begitu pula dengan di tempat magang yakni UPTD. BPPSTPHBUN. Okulasi merupakan penempelan dua sifat tanaman yang memiliki sifat baik. Menurut Musthofa, et al. (2019), okulasi sebagai kegiatan yang pengabungan antara sifat unggul yang dimiliki oleh batang atas dengan sifat unggul yang dimiliki oleh batang bawah. 

        Salah satu kegiatan perbanyakan yang dilakukan di UPTD. BPPSTPHBUN ini adalah menggunakan teknik okulasi. Okulasi merupakan sebuah teknik perbanyakan pada tanaman secara vegetatif. Okulasi ini dapat dilakukan pada tanaman jeruk. Teknik okulasi ini dilakukan dengan menggabungkan atau menempelkan tanaman yang masih dalam satu spesies tanaman. Dari observasi yang saya lakukan dengan melihat petani melakukan okulasi, okulasi baik dilakukan di pagi hari pada pukul 07:00-10:00 karena di pagi hari biasanya tumbuhan melakukan proses fotosintesis. 

Kriteria Okulasi

    Sebelum melakukan okulasi pada tanaman jeruk, tentunya ada beberapa kriteria atau syarat yang harus dilakukan untuk menghasilkan bibit tanaman jeruk baik. 
  1. Pengaruh Letak Mata Tempel. Dalam pertumbuhan mata tempel, panjang batang atas sangat mempengaruhi hasil okulasi. Semakin panjang tunas batang atas maka semakin banyak jumlah daun batang atas yang dihasilkan. Karena semakin banyak jumlah daun maka proses fotosintesis akan semakin meningkat, hal ini menyebabkan lebih banyak terbentuknya asimilat. (Purba, J., Wahyuni, P., & Suarnaya, I. 2019). batang bawah yang digunakan dalam menempel mata tempel harus memiliki kambium yang sedikit tebal dan berair dengan diameter sebesar pencil. Posisi buku sumber mata tempel yang optimal adalah bagian tengah karena penampangnya berbentuk bulat dan banyak terdapat kambium. Oleh sebab itu dalam tahap awal pertumbuhan mata tempel, sel-selnya juga aktif dalam pertumbuhan.
  2. Mutu Mata Tempel. Mata tempel yang baik adalah mata tempel pada bagian pangkal ranting tidak dipakai (mata tunas dorman) sebab memiliki karakteristik kulit yang tipis dan cenderung berkayu, pada bagian ujung ranting mata tempel yang masih muda yang masih berbentuk relatif pipih dengan kadar air yang banyak (Purba, J., Wahyuni, P., & Suarnaya, I. 2019). 
  3. Alat yang digunakan harus steril. Alat yang digunakan dalam proses okulasi yakni pisau atau cutter yang tajam dan steril. Hal ini bertujuan agar tidak terjadinya kontaminasi atau pembusukan pada tunas mata tempel. 

(Cara Okulati Tanaman Jeruk Tejakula)
Dokumentasi pribadi 

    Dalam perbanyakan tanaman, terdapat beberapa jenis okulasi (grafting)Budding merupakan salah satu bentuk okulasi di mana batang atas terdiri dari tunas tunggal (single bud) dan bagian kecil kulit kayu  atau tanpa kayu. Terdapat dua teknik okulasi yang lebih sederhana yang dapat dilakukan yaitu Chip budding dan T-budding (Shield Budding)yang merupakan teknik yang paling penting bagi tanaman hias dan pohon buah. Chip budding dan T-budding jauh lebih sederhana dan, karenanya, jauh lebih cepat daripada teknik okulasi manual (Hartmann, H.T., et al. 2010: 484). 

 Prosedur Kerja Okulasi Jeruk Varietas Tejakula

    Teknik okulasi pada tanaman jeruk yang diterapkan di kebun luwus yakni mengugnakan teknik Chip Budding. Teknik chip budding adalah teknik primary budding yang banyak digunakan untuk pohon berkayu, pohon berbuah, semak, tanaman hias dan masih banyak lagi. Teknik ini umumnya diterapkan di batang bawah, dengan diameter batang 13-25mm.  Chip pada kulit kayu dihilangkan pada bagian kulit yang halus diantara buku (node) dekat pangkal batang bawah yang nantinnya akan digantikan dengan chip yang baru dengan ukuran dan bentuk yang sama dari batang atas (Hartmann, H.T., et al. 2010: 484).
  • Pada batang atas (budstick) potonggan pertama kali dilakukan tepat dibagian tunas yang akan digunakan dengan kemiringan sudut 30-45 derajat. Untuk potongan kedua dimulai sekitar 25 mm diatas bagian tunas dan masuk kedalam dan kebawah dibelakang tunas tempel sampai memotong potongan pertama. 
  • Kulit batang bawah (rootstock) lebih tebal sehingga lapisan kambium pada tunas tempel harus ditempelkan bertepatan dengan bagian yang disayat, lebih baik mengenai kedua sisi kambium batang bawah, namun setidaknya mengenai satu sisinya. Sayatan sama dengan perlakukan pada batang atas. 
  • Pembungkusan okulasi harus dilakukan untuk menutup bagian yang disayat dan untuk menahan agar sayatan tunas di batang bawah lebih erat sehingga tunas tempel tidak cepat kering (dry out). Pembungkusan memang harus segera dilakukan untuk menghindari kekeringan pada tunas tempel. Apabila tunas tempel sudah mulai tumbuh, maka plastik pembungkus harus segera dilepaskan. 
Gambar 1. Teknik Chip Budding
(Sumber: Hartmann, H.T., Kester, D.E., Davies Jr., F.T. and Geneve, R.L. (2010):492)


https://propg.ifas.ufl.edu/images/06-grafting/03-buddingtypes/graftingbudchip/image9.jpg
Gambar 2. Teknik Chip Budding
(Sumber:https://propg.ifas.ufl.edu/06-grafting/03-buddingtypes/02-grafting-budchip.html dan https://www.ndsu.edu/pubweb/chiwonlee/plsc368/student/papers02/maasheim/appleprop.htm)


    Menurut Bapak Wayan Suartana, dalam melakukan okulasi membutuhkan batang bawah untuk menempel mata tunas tanaman Jeruk Tejakula. Cara melakukan okulasi yaitu sebagai berikut: 
  1. Memilih Batang Bawah. Varietas tanaman jeruk untuk batang bawah yang digunakan adalah Japanese citrus. Pemilihan batang bawah dengan kondisi diameter sebesar pensil, tumbuhannya sehat, daunnya hijau segar, dengan kambium yang berair atau sedikit tebal. Hal ini karena kambium bertugas sebagai pengangkut makanan dari daun ke batang. Selain itu kambium juga sebagai perekat mata tunas dengan batang bawah. Sehingga kemungkinan okulasi dapat berhasil lebih banyak. 
  2. Memilih Batang Atas. Batang atas ini didapat dari screenhouse BPMT III dengan varietas  tanaman yang diinginkan seperti Varietas Tejakula. Dilakukan dengan mengambil bagian dari pohonnya yaitu bagian cabangnya. Pemilihan cabangnya yaitu yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Memiliki warna hijau tua segar. Cabang yang terlalu muda jika ditekan akan berair dan jika terlalu tua warnanya sudah kecoklatan sehingga tidak baik untuk okulasi. Dari satu cabang dapat menghasilkan beberapa mata tunas
  3. Pembuatan sayatan untuk tempat menempel mata tunas. Kegiatan okulasi ini membutuhkan pisau/silet tajam dan plastik untuk melekatkan mata tempelnya. Caranya menyayat bagian kambium batang bawah dengan sekali sayatan. Disinilah pentingnya menggunakan pisau/silet yang tajam dan steril meenggunakan alkohol 70%. 
  4. Kemudian memotong mata tunas yang diambil dari batang atas mengunakan pisau. Pemotongan mata tunas menggunakan metode sisip/irisan (Chip-budding).  Dimana batang atas (mata tempel/mata tunas) disayat sepanjang 1-2 cm sehingga kayu dan kulitnya ikut terambil dan menempel pada batang bawah. 
  5. Setelah menempel, kemudian dilekatkan menggunakan plastik. 
  6. Setelah okulasi, tanaman dibiarkan tumbuh selama 3-4 minggu. Jika mata tempel masih berwarna hijau berarti tempelan ini sudah ada keberhasilan hidup. Setelah 3 minggu plastik di buka menggunakan silet. Setelah di buka maka dilanjutkan dengan kegiatan merunduk. 
        Namun dalam proses okulasi tak jarang terjadinya kendala yang muncul yakni beberapa mata tempel hasil okulasi tidak tumbuh menjadi tanaman baru atau disebut dengan dormansi. Tidak jarang banyak mata tempel  yang ditemukan menuing, kering, dan bahkan mati. Dormansi terjadi akibat dari adanya ketidakseimbangan hormon mata tempel, dimana hormonal yang seimbang pada tempat penempelan tunas mempengaruhi laju pertumbuhan tunas. Semakin keras atau kuat batang bawah, sel-sel kambium semakin kurang aktif yang dapat menyebabkan lambatnya pertumbuhan tunas. Selain itu, biasanya terdapat tunas yang terlambat pecah atau tumbuh pada mata tempel yang erat kaitannya dengan kondisi dorman dari mata tempel pada pohon induk (Sugiyatno, 2016).







Sumber:
  1. Hartmann, H.T., Kester, D.E., Davies Jr., F.T. and Geneve, R.L. (2010) Plant Propagation: Principles and Practices. 8th Edition, Prentice-Hall, New Jersey, 915 p.
  2. Musthofa, M. I., Agus S., Tatik W. dan Mochammad R. 2019. The Effect Of Eye Scion Position On The Survival Budding Of Several Mandarin Citrus. Jurnal Produksi Tanaman. Vol. 7(5): 867–873
  3. Purba, J., Wahyuni, P., & Suarnaya, I. (2019). Pengaruh Posisi Buku Sumber Mata Tempel dan Konsentrasi Atonik terhadap Pertumbuhan bibit Okulasi Jeruk (Citrus sp) Varietas Keprok Tejakula. Agro Bali: Agricultural Journal. Vol.1 (1): 1-10. 10.37637/ab.v1i1.211. 
  4. Sugiyatno, A. 2016. Teknik Pematahan Dormansi Mata Tunas Jeruk dengan Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh. IPTEK Hortikultura.(12):1-6.

Tuesday, October 17, 2023

Aklimatisasi Tanaman Anggrek Bulan (Dendrobium sp.)

Aklimatisasi Tanaman Anggrek Bulan (Dendrobium sp.)


   
 Aklimatisasi adalah suatu tahap pengadaptasian plantlet yang dilakukan dari lingkungan in vitro (dalam botol) ke lingkungan baru (alamiah) di luar botol (Erfa L., Desi M., Rizka N. S., dan Yuriansyah. 2019.).Keberhasilan perbanyakan suatu tanaman yang dilakukan secara in vitro di laboratorium sangat bergantung pada tahap akhir perbanyakan tersebut yaitu aklimatisasi. Artinya bahwa tahap akhir ini yang menentukan apakah planlet akan berhasil tumbuh dan berkembang pada lingkungan di luar botol dengan baik. 

    Kegiatan Aklimati tanaman anggrek merupakan tahapan terakhir dalam proses kultur jaringan. Tujuan aklimatitasi ini adalah untuk mengadaptasi atau mengkondisikan sub kultur yang sebelumnya tumbuh di dalam botol (in vitro) agar selanjutnya dapat tumbuh dan berkembang di luar botol/ lingkungan alamiah. Hal ini sealan dengan pendapat Utami, dkk. 2022, aklimatisasi dilakukan untuk mempersiapkan planlet agar siap ditanam atau hidup pada kondisi lingkungan alamiah. 

Kriteria Planlet yang Siap Diaklimatisasi

Sebelum melakukan aklimatisasi, perlu memperhatikan karakteristik planlet yang siap untuk diaklimatisasi. Adapun beberapa kriteria planlet yang siap untuk diaklimatisasi adalah sebagai berikut: (Utami, dkk. 2022)

  1. Organ lengkap (akar, batang, daun).
  2. Pucuk batang berwarna hijau segar dan ‘mantap’ artinya tidak tembus pandang.
  3. Semua plantlet dalam botol terlihat kekar, tidak ada yang menguning atau bahkan mati. 
  4. Komposisi dari daun dan akar seimbang, pseudobulb atau umbi semu mulai terlihat dan sebagian kecil telah mengeluarkan tunas baru. 
  5. Terdapat jumlah akar serabut 3 – 4 akar dengan panjang 1,5 – 2,5 cm.
  6. Memiliki ukuran tinggi tanaman yang seragam, yakni 3 – 4 cm.

Tahapan Proses Aklimatisasi

    Dalam proses aklimatisasi yang dilakukan di taman anggrek, adapun beberapa tahapan dalam proses aklimatisasi yaitu sebagai berikut.  

  1. Mempersiapkan bibit yang siap di aklimatisasi. 
  2. Bibit dikeluarkan dari botol menggunakan pinset panjang. 
  3. Bibit yang sudah dikeluarkan, kemudian di bilas menggunakan air mengalir hingga bersih. 
  4. Setelah dibilas, bibit kemudian di keringkan atau ditiriskan. Bibit diletakkan di atas kertas hingga benar-benar kering. 
  5. Setelah kering, bibit di tata di dalam kompot. 
  6. Bibit dalam kompot di simpan dalam ruangan yang tertutup. 
  7. Setelah itu, bibit dipindahkan ke dalam rumah kasa. 
  8. Langkah berikutnya, bibit di single dengan moss ke dalam plastik kecil. 
  9. Bibit yang disingle, ditata di dalam kompot. 
  10. Seteleh itu, bibit single yang sudah tumbuh di dalam kompot di pindahkan ke dalam pot berukuran kecil. 
  11. Setelah bibit tumbuh besar, bibit dipindahkan ke dalam pot besar. 
  12. Langkah terakhir adalah perawatan tanaman dengan penyiraman dan pemupukan. 
        Pada kegiatan aklimatisasi, setelah dikeringkan di atas kertas tidak jarang banyak planlet yang mati. Hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan yang kurang mendukung sehingga menyebabkan pertumbuhan plantlet kurang baik. Kondisi lingkungan mikro plantlet juga yang tidak mendukung pertumbuhan plantlet sehingga menyebabkan plantlet akan mati (Erfa, et al. 2019). Hal ini sejalan dengan Utami, dkk. 2022, dalam tahap aklimatisasi ada beberapa hambatan yang dihadapi namun dapat diatasi dengan penggunaan media tanam yang tepat, sehingga perbanyakan tanaman anggrek bisa berhasil. 

 


Sumber: 

  1. Erfa L., Desi M., Rizka N. S., dan Yuriansyah. 2019. Success of Acclimatization and Enlargement of Compote Seeds Orchid Month (Phalaenopsis) on Some Combinations of Plant Media. Jurnal Penelitian Pertanian Terapan. Vol. 19 (2): 121-126  
  2. Utami, N. R., Margareta R., dkk. 2022. Aklimatisasi Anggrek Species Hasil Kultur Jaringan Melalui Pemberdayaan Masyarakat Dusun Gempol.  Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. 19 No. 1 (Edisi Khusus) Tahun 2022
Dokumentasi kegiatan: 
Gambar 1. Persiapan Bibit atau planlet Aklimatisasi
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 2. Kegiatan Pengeluaran Planlet dari dalam Botol
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 3. Planlet yang Sudah Dibersihkan dan Dicuci
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 4. Proses Pengeringan atau Penirisan Planlet 
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 5. Planlet yang Sudah Kering
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 6. Bibit Ditata dalam Kompot 
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)



Gambar 7. Bibit yang Sudah Ditata dalam Kompot dan Diberi Label
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)


Menyiang (Pengendalian Gulma) pada Tanaman

 Menyiang pada Bibit Tanaman 

            Menyiang merupakan salah satu teknik dalam pemeliharaan serta perawatan tanaman. Dalam pemeliharaan ada beberapa kegiatan yang dilakukan meliputi penyiraman, penyiangan dan pencegahan dari serangan hama dan penyakit (Dewi, E. S., Selvy H., dan Rosnina. 2016.: 20). 
        Menurut Jamilah, (2013) waktu pengendalian gulma harus tepat dilakukan. Hal ini karena disamping gulma sebagai inang beberapa hama penyakit, juga menimbulkan adanya kompetisi memperebutkan  unsur hara, air, ruang tempat tumbuh termasuk sinar matahari. Penyiangan yang tepat dilakukan setelah tanam menyebabkan kehadiran gulma pada periode kritis tidak menimbulkan persaingan yang tidak berarti sehingga pertumbuhan tanaman terutama pertambahan jumlah daun tidak terganggu (Tarigan dkk.,2013). Menurut Simamorah (2006) dalam Binolombangan, dkk. (2017) waktu penyiangan yang tepat akan mengurangi kehilangan hasil pertanaman akibat persaingan dengan gulma. 

Metode dalam Menyiang Tanaman

        Menyiang merupakan kegiatan membersihkan atau membuang gulma atau tanaman mengganggu agar tidak menggangu bibit tanaman yang sedang tumbuh. Ada beberapa metode yang digunakan dalam menyiang yaitu 
  1. Secara manual dengan tangan. cara manual ini dilakukan dengan mencabut gulma menggunakan tangan pada semua tanaman yang ditumbuhi gulma; 
  2. Secara Kimiawi dengan herbisida; dan
  3. Secara mekanis dengan mesin. 
        Di sini metode yang digunakan dalam menyiang adalah secara manual menggunakan tangan, karena jika dilakukan dengan kimiawi dapat mempengaruhi pertumbuhan calon bibit tanaman jeruk selain itu bibit tanaman jeruk juga di tanam pada polybag sehingga kurang efektif jika dilakukan dengan menggunakan mesin. Kegiatan menyiang dilakukan setiap 2-4 minggu sekali, ketika sudah terlihat ada gulma yang tumbuh disekitar bibit tanaman. Menyiang bertujuan untuk membersihkan bibit tanaman dari gulma (tanaman penganggu) yang merugikan, mengurangi kompetisi memperebutkan unsur hara, dan meningkatkan produktivitas bibit tanaman. 

Sumber: 

  1. Dewr, E. S., Selvy H., dan Rosnina. 2016. Teknologi Perbanyakan Tanaman Generatif & Vegetatif.  Aceh: Universitas Malikussaleh. 
  2. Binolombangan, R., Wawan P., dan Suyono D. 2017. Pengaruh Waktu Penyiangan Dan Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Nilam (Pogostemon Cablin Benth). JATT: Jurnal Agroteknotropika. Vol. 6(3) : 349 - 356.
  3. Jamilah. 2013. Effect of Weed Mowing and Planting System on Growth and Yield of Rice (Oryza sativa L.).Jurnal Agrista. Vol. 17(1): 28-35.
Dokumentasi Kegiatan: 
Gambar 1. Menyiang tanaman jeruk varietas Siem Kintamani 
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Gambar 2. Menyiang tanaman jeruk varietas Siem Kintamani 
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 3. Menyiang tanaman jeruk varietas Siem Kintamani 
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 4. Menyiang tanaman Durian Otong 
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Pembuatan Media Tanam

Pembuatan Media Tanam 

        Media tanam adalah substansi dimana tempat tumbuhnya akar tanaman, tempat mengekstrak unsur hara dan air (Landis et al. 2014). Menurut (Febriani, dkk. 2021) media tanam merupakan substrat atau kombinasi subtrat yang digunakan untuk menumbuhkan suatu tanaman. Jadi dapat disimpulkan bahwa media tanam merupakan suatu tempat atau subtrat serta kombinasi substrat yang berguna untuk menumbuhkan tanaman, mengekstrak unsur hara dan air. Faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan pada tanaman adalah media tanam. Setiap jenis tanaman memerlukan sifat dan karakteristik media tanam yang berbeda-beda tergantung jenis tanamannya.(Adiprasetyo, dkk. 2020)

Pembuatan Media Tanam Tanaman Cabai Rawit (Capsicum annuum L.) varietas Sret

        Menurut Harpenas & Dermawan (2010), tanaman cabai yang memiliki sifat tidak mengenal musim merupakan salah satu sifat tanaman cabai yang digemari oleh petani. Varietas yang banyak dibudidayakan dan digemari petani adalah varietas Sret, karena varietas ini cukup adaptif dan berdaya hasil tinggi (Arifin, et al. 2022).  Di UPTD. BPPSTPHBUN varietas tanaman cabai yang dibudidayakan adalah varietas Sret. Varietas cabai ini memang banyak ditemukan di daerah tabanan dan tidak sulit untuk melakukan perbanyakan pada jenis cabai ini. Tanaman cabai varietas Sret dirasa cocok untuk ditanam di kawasan yang kering (Arifin, et al. 2022). 


        Media tanam sangat penting bagi tanaman karena untuk tempat tanaman bertumbuh dan berkembang serta mendapatkan zat hara. Kegiatan pembibitan tanaman pasti membutuhkan media tanam karena media tanam merupakan komponen yang paling utama dalam proses pembibitan. Di UPTD. BPPSTPHBUN  tidak hanya pembibitan anggrek saja tetapi juga ada pembibitan tanaman cabai rawit (Capsicum annuum L.). Selain di laboratorium saya juga belajar cara membuat media tanam tanaman cabai rawit varieta Sret. Kegiatan ini saya dan rekan-rekan dibantu oleh 2 pegawai di taman anggrek. Media tanam yang digunakan berupa tanah subur yang dicampur dengan beberapa campuran komposisi didalamnya, yaitu antara lain: 

  • Tanah Subur (top soil)
  • Thricoderma
  • Pupuk kandang Sapi 
  • Sekam 

Proses Pembuatan Media: 

     Cara pembuatan media taman untuk pembibitan tanaman cabai terbilang cukup mudah untuk dilakukan, hanya dengan mencampurkan tanah dengan 3 komposis lainya. Lebih lengkapnya, kegiatan yang dilaksanakan sebagai berikut: 

  1. Menyiapkan media tanam berupa tanah subur yang dicampur dengan sekam padi dan ditambah dengan pupuk. Tujuannya adalah supaya media tanam tidak padat dan bibit tanaman cabai dapat nutrisi air yang cukup hingga ke akarnya. 
  2. Setelah itu memilih bibit tanaman cabai yang unggul dengan ukuran yang sudah besar dengan kondisi batang yang tegak lurus dan sehat. Bibit tanaman cabai yang kuning dan kecil tidak digunakan. 
  3. Kemudian tanah dicampur menggunakan pupuk kandang khusunya kotoran sapi. Kotoran sapi yang sudah kering. Dengan perbandingan 2:1 untuk mempercepat pertumbuhan bibit tanaman cabai. Pupuk kandang kotoran sapi bermanfaat dalam menambah ketersediaan hara pada media tanam serta mampu meningkatkan porositas tanah dan kemampuan media tanam dalam menyimpan ketersediaan air (Sugianto dan Kamelia 2021). 
  4. Lalu dicampur dengan thricoderma. Tujuannya untuk pengendali jamur patogen, trichoderma memiliki beberapa manfaat yang lain seperti biofungisida, dimana sebagai fungisida hayati yang bermanfaat dalam mengendalikan jamur patogen.
  5. Kemudian menyiapkan polybag besar yang sudah diisi setengah nya dengan tanah subur yang sudah dicampur dengan pupuk dan sekam.
  6. Memindahkan bibit cabai ke dalam polybag besar dengan hati-hati dan diisi lagi menggunakan tanah subur hingga volumenya memenuhi permukaan polybag. 
  7. Kegiatan ini terus diulangi hingga semua bibit tanaman cabai habis.

Gambar 1. Media Tanam Tanaman Cabai varietas Sret
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Monday, October 16, 2023

Pengendalian OPT (Organisme Penganggu Tanaman)

Pengendalian OPT (Organisme Penganggu Tanaman) dengan Insectisida

    Tidak hanya kegiatan pemeliharaan tanaman jeruk Tejakula saja yang saya lakukan, tetapi juga melaksanakan kegiatan pengendalian OPT atau Hama untuk varietas tanaman jeruk Tejakula.   Penelitian yang dilakukan oleh Mulyadiharja, S. dan I. W. Sukra W. (2017) menunjukkan mekanisme pengendalian serangga hama yang dilakukan oleh kebanyakan para petani adalah dengan melakukan penyemprotan menggunakan insektisida kimia. 

        Kegiatan ini dilakukan untuk menjaga tanaman jeruk agar tidak terserang hama atau serangga. Penggunaan Insectisida bertujuan untuk menekan atau mengurangi populasi jasad pengganggu seperti hama, penyakit, dan gulma sampai di bawah batas nilai ambang ekonomi, tanpa menimbulkan dampak resistensi tanaman, resurgensi, keracunan tanaman pokok dan pencemaran lingkungan. Bahan yang digunakan berupa Insectisida dengan konsentrasi 2cc/liter air menggunakan alat semprot sprayer. Konsentrasi pestisida yang digunakan sesuai dengan tingkat serangan hama dan penyakit di lahan jeruk (Purba dan Bambang, 2019). 

    Aplikasi menggunakan teknik penyemprotan, merupakan teknik pengaplikasian yang umum dilakukan oleh para petani. Supaya aplikasi dengan tenik penyemprotan ini maksimal dan berhasil, terdapat beberapa faktor pendukung lainnya seperti waktu pengendalian yang tepat, jenis insectisida yang digunakan, takaran konsentrasi dosis dan alat aplikasi yang digunakan dalam pengendalian hama sehingga pengaplikasiannya dapat tepat sasaran dan menjamin penyebaran bahan atau campuran insektisida merata tanpa menimbulkan pemborosan. Waktu pengendalian hama ini dilakukan baiknya pada pagi hari kata petani yang bertugas. Pengendalian hama yang dilakukan berpedoman pada PHT (Pengendalian Hama Terpadu). 

Sumber:
Mulyadiharja, S. dan I. W. Sukra W. 2017. Identifikasi Dan Mekanisme Pengendalian Serangga (Insecta) Hama Tanaman Jeruk Siam (Citrus Nobilis) Di Desa Kintamani, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Jurnal Pendidikan Biologi Undiksha. Vol 4. No. 2. 
Purba C. dan Bambang S. P. 2019. Teknik Pembibitan, Pemupukan, Dan Pengendalian Hama Penyakit Tanaman Komoditi Jeruk Siam (Citrus Nobilis Var. Microcarpa) Di Kecamatan Simpang Empat Dan Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, Indonesia Endang. Jurnal Pro-Life Vol. 6(1): 66-57

Merunduk (Layering) Tanaman Jeruk Tejakula

 Merunduk Tanaman Jeruk Varietas Tejakula (Citrus reticulata var. Tejakula)

Merunduk merupakan salah satu teknik perbanyakan secara vegetatif buatan. Dalam perbanyakan secara vegetatif buatan terdapat 3 cara yaitu stek, cangkok, dan merunduk (Luta, 2022). 

 Merunduk merupakan salah satu teknik memperbanyak bibit tanaman. Salah satunya adalah pada tanaman Jeruk Tejakula yang di perbanyak di perkebunan UPTD. BPPSTPHBUN Luwus. Sistem runduk dikatakan sebagai teknik memperbanyak tanaman secara vegetatif yang dilakukan dengan cara membengkokkan (merundukkan) sebagian atau seluruh bagian cabang atau ranting batang ke arah tanah.
        Menurut Bapak Wayan Suartana, kegiatan merunduk tanaman jeruk ini bertujuan agar mempercepat pertumbuhan calon benih mata tunas okulasi yang sudah ditempel. Agar asupan atau suplai nutrisi tersalurkan dengan baik untuk pertumbuhan mata tunas okulasi. Dipotong sebagian batang rundukan dan disisakan 20% batang serta daunnya. 
       


Teknik merunduk (layerage) memang digunakan untuk perbanyakan tanaman jeruk Tejakula (Citrus reticulata var. Tejakula). Namun tidak semua tanaman dapat dilakukan layerage. Perundukan pada tanaman jeruk Tejakula hanya merundukkan bagian batangnya saja tidak dibenamkan hingga ke tanah tetapi batangnya hanya dibengkokkan saja.  Bagian batang yang di runduk adalah bagian batang dewasa yang berada di atas mata tunas pokok yang sudah ditempel. Menurut Dewr, E. S., Selvy H., dan Rosnina. (2016) terdapat beberapa syarat perlu memperhatikan dalam merunduk, yakni memiliki cabang yang panjang, tekstur cabangnya lencur, dan lokasi cabang yang dekat dengan tanah. 

        Perundukan adalah metode perbanyakan dimana akar adventif dipacu terbentuk pada batang sementara batang tersebut masih melekat pada tanaman induknya (Duaja, Elis, dan Gusniwati.2020). Sedangkan menurut Dewr, E. S., Selvy H., dan Rosnina. (2016) merunduk adalah proses perkembangbiakan secara vegetative buatan yang dilakukan pada tanaman yang mempunyai cabang panjang dengan merundukkannya ke arah tanah. Menurut Duaja, Elis, dan Gusniwati. (2020) terdapat enam tipe perundukan yaitu air layering, simple layering, tip layering, trench layering, serpentine layering dan mound layering. Biasanya tipe perundukan yang dominan digunakan adalah air layering dan simple layering. Namun metode merunduk pada tanaman jeruk tejakula, bagian yang dirunduk tidak sampai menyentuh tanah hanya dibiarkan terkulai diatas permukaan tanah akan tetapi arah rundukkannya kearah tanah. 


Langkah Kerja: 

  1. Memilih batang yang mempunyai cabang atau ranting yang panjang dan lentur. 
  2. Perundukannya menggunakan gunting dimana batang dipotong dengan posisi miring. Tidak semua bagian batang dipotong tapi disisakan sedikit bagian kambium batangnya. Hal ini bertujuan untuk membantu pertumbuhan mata tunas tempel. 
  3. Kemudian batang yang dipotong miring dibengkokkan (dirundukan) ke arah tanah. 
  4. Setelah mata tunas tumbuh menjadi benih pokok, maka bagian batang rundukan di potong. 
  5. Rundukan dipotong menggunakan gunting khusus dan tidak semua bagian batang rundukan dipotong. Namun disisakan sedikit batang serta cabangnya. 
  6. Setelah itu tanaman jeruk dibiarkan tumbuh hingga mencapai kira-kira 20 cm. Hingga benih pokok siap untuk menjadi tanaman jeruk yang baru.

Sumber: 

  1. Luta, D. A. 2022. Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif Buatan. Sukoharjo: Tahta Media Group. 
  2. Duaja, M. D., Elis K. dan Gusniwati. 2020. Pembiakan Tanaman Secara Vegetatif. Jambi: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi
  3. Dewr, E. S., Selvy H., dan Rosnina. 2016. Teknologi Perbanyakan Tanaman Generatif & Vegetatif.  Aceh: Universitas Malikussaleh. 
  4. Prastowo N, J.M. Roshetko, dkk. 2006.Tehnik Pembibitan dan Perbanyakan Vegetatif Tanaman Buah. Bogor: World Agroforestry Centre (ICRAF) dan Winrock International. p. 100. 

Kultur Jaringan Anggrek Bulan (Dendrobium sp.)

 Kultur Jaringan dan Multipikasi Tanaman Anggrek Bulan (Dendrobium sp.) Secara In Vitro

    Kultur Jaringan merupakan suatu teknik budidaya perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan metode non-konvensional. Kultur jaringan melibatkan pertumbuhan dan perkembangan dari jaringan atau organ tanaman yang dilakukan secara in vitro (dalam botol), yang artinya dilakukan di luar lingkungan alaminya dimana dilakukan di dalam sebuah wadah kultur yang terkontrol. Pada proses kultur jaringan terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan, antara lain (1) pembuatan media agar; (2) pemilihan tanaman induk (eksplan); (3) Sterilisasi; (4) Multiplikasi; (5) Pengakaran; (6) Aklimatisasi; (7) Penanaman di lapangan (Arti, 2023). 
    
    Kegiatan kultur jaringan dilakukan di laboratorium. di UPTD. BPPSTPHBUN terdapat satu laboratorium anggrek yang memang digunakan untuk perbanyakan tanaman anggrek. Di laboratorium ini saya belajar kultur jaringan berasama dengan Ibu Kadek Dwi sebagai laboran. Beliau mengajarkan cara untuk memperbanyak sub kultur ke dalam media tanam yang baru. Kegiatan ini dinamakan multiplikasi sub kultur. Karena saat ini tanaman anggrek belum menghasilkan buah, sehingga kegiatan yang dilakukan adalah multiplikasi sub kultur secara in vitro. Karena baru pertama kali melakukan kultur jaringan, saya diajarkan prosedur kerja mulai dari menyiapkan alat dan bahan serta langkah kerja yang harus dilakukan. Salah satu pegawai mendemontrasikan langkah kerja yang harus dilakukan setelah itu barulah saya dan rekan-rekan yang lainnya mempraktikan setelahnya. 

Berikut merupakan video demontrasi kegiatan multiplikasi sub kultur tanaman anggrek bulan (Dendrobium sp.): 
(Demontrasi kultur jaringan)
dokumentasi pribadi

    Berdasarkan atas demontrasi dan video diatas, adapun alat dan bahan serta langkah kerja atau prosedur kerja yang dilakukan yaitu sebgai berikut:

Alat dan bahan 

  1. Petry dish (Cawan petri) 6 buah
  2. Pinset besar 1 buah
  3. Pinset kecil 1 buah 
  4. Spatula 1 buah
  5. Pisau kecil 1 buah
  6. Gunting 1 buah
  7. Kapas secukupnya
  8. Spiritus
  9. Media tanam secukupnya 
  10. Botol dan penutup karet


Prosedur kerja: 

  1. Menghidupkan Laminar air flow selama 30 menit sebelum digunakan. 
  2. Menyiapkan alkohol 70% untuk strerilisasi alat kultur jaringan
  3. Pinset besar dan kecil, spatula dan gunting distrerilisasi di api bunsen. 
  4. Setiap mau menggunakan alat harus di strerilisasi di api dan alkohol di rendam
  5. Cawan petri di strerilisasi di api bunsen
  6. Kapas di lilit di spatula dan dimasukkan ke dalam alkohol 70%. 
  7. Setelah itu siapkan tanaman kultur jaringan
  8. Buka tutup dan keluarkan tanaman dari dalam botol menggunakan pinset yang streril dipindahkan ke dalam cawan petri dan ditutup kembali
  9. Kemudian sub kultur yang sudah di pindahkan ke cawan petri di potong kecil kecil di perbanyak. Dipindahkan ke cawan petri yang satunya. Hingga sub kultur habis. 
  10. Kemudian ambil botol media tanam dan sub kultur di tanam pada botol media tanam yang baru. 
  11. Setelah seluruh sub kultur di tanam pada media tanam yang baru, kemudian di beri label dan di-wrap menggunakan plastic wrap bening. Lalu disimpan dalam ruangan yang streril. 
  12. Setelah selesai kegiatan praktikum, selanjutnya mematikan blower laminar air flow terlebih dahulu, kemudian mematikan mesinnya.  
  13. Membersihkan alat yang digunakan menggunakan sabun dan alkohol kemudian disimpan dalam keranjang
  14. Botol-botol kultur yang berisi sub kultur disusun di rak-rak kultur yang ada di dalam ruang inkubasi. 
  15. Selama masa inkubasi, dilakukan pengamatan terhadap kultur setiap minggu sekali. 
Sumber: 
  1. Arti, L. T. dan Mukarlina. (2017). Multiplikasi Anggrek Bulan (Dendrobium sp.) Dengan Penambahan Ekstrak Taoge Dan Benzyl Amino Purine (BAP) Secara InVitro. Protobiont Vol. 6 (3) : 278 – 282. 
  2. Sari, A. M. 2023. Kultur Jaringan: Tahapan dan Manfaatnya. Fakultas Pertanian. https://faperta.umsu.ac.id/2023/06/29/kultur-jaringan-tahapan-dan-manfaatnya/ [Diakses pada 17 Oktober 2023]. 

Dokumentasi kegiatan: 
 


Popular Posts

Recent Posts

Widget

Copyright © Pengalaman Magang di UPTD BPPSTPHBUN LUWUS | Powered by Blogger
Design by Viva Themes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com