Monday, October 16, 2023

Pengendalian OPT (Organisme Penganggu Tanaman)

Pengendalian OPT (Organisme Penganggu Tanaman) dengan Insectisida

    Tidak hanya kegiatan pemeliharaan tanaman jeruk Tejakula saja yang saya lakukan, tetapi juga melaksanakan kegiatan pengendalian OPT atau Hama untuk varietas tanaman jeruk Tejakula.   Penelitian yang dilakukan oleh Mulyadiharja, S. dan I. W. Sukra W. (2017) menunjukkan mekanisme pengendalian serangga hama yang dilakukan oleh kebanyakan para petani adalah dengan melakukan penyemprotan menggunakan insektisida kimia. 

        Kegiatan ini dilakukan untuk menjaga tanaman jeruk agar tidak terserang hama atau serangga. Penggunaan Insectisida bertujuan untuk menekan atau mengurangi populasi jasad pengganggu seperti hama, penyakit, dan gulma sampai di bawah batas nilai ambang ekonomi, tanpa menimbulkan dampak resistensi tanaman, resurgensi, keracunan tanaman pokok dan pencemaran lingkungan. Bahan yang digunakan berupa Insectisida dengan konsentrasi 2cc/liter air menggunakan alat semprot sprayer. Konsentrasi pestisida yang digunakan sesuai dengan tingkat serangan hama dan penyakit di lahan jeruk (Purba dan Bambang, 2019). 

    Aplikasi menggunakan teknik penyemprotan, merupakan teknik pengaplikasian yang umum dilakukan oleh para petani. Supaya aplikasi dengan tenik penyemprotan ini maksimal dan berhasil, terdapat beberapa faktor pendukung lainnya seperti waktu pengendalian yang tepat, jenis insectisida yang digunakan, takaran konsentrasi dosis dan alat aplikasi yang digunakan dalam pengendalian hama sehingga pengaplikasiannya dapat tepat sasaran dan menjamin penyebaran bahan atau campuran insektisida merata tanpa menimbulkan pemborosan. Waktu pengendalian hama ini dilakukan baiknya pada pagi hari kata petani yang bertugas. Pengendalian hama yang dilakukan berpedoman pada PHT (Pengendalian Hama Terpadu). 

Sumber:
Mulyadiharja, S. dan I. W. Sukra W. 2017. Identifikasi Dan Mekanisme Pengendalian Serangga (Insecta) Hama Tanaman Jeruk Siam (Citrus Nobilis) Di Desa Kintamani, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Jurnal Pendidikan Biologi Undiksha. Vol 4. No. 2. 
Purba C. dan Bambang S. P. 2019. Teknik Pembibitan, Pemupukan, Dan Pengendalian Hama Penyakit Tanaman Komoditi Jeruk Siam (Citrus Nobilis Var. Microcarpa) Di Kecamatan Simpang Empat Dan Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, Indonesia Endang. Jurnal Pro-Life Vol. 6(1): 66-57

Merunduk (Layering) Tanaman Jeruk Tejakula

 Merunduk Tanaman Jeruk Varietas Tejakula (Citrus reticulata var. Tejakula)

Merunduk merupakan salah satu teknik perbanyakan secara vegetatif buatan. Dalam perbanyakan secara vegetatif buatan terdapat 3 cara yaitu stek, cangkok, dan merunduk (Luta, 2022). 

 Merunduk merupakan salah satu teknik memperbanyak bibit tanaman. Salah satunya adalah pada tanaman Jeruk Tejakula yang di perbanyak di perkebunan UPTD. BPPSTPHBUN Luwus. Sistem runduk dikatakan sebagai teknik memperbanyak tanaman secara vegetatif yang dilakukan dengan cara membengkokkan (merundukkan) sebagian atau seluruh bagian cabang atau ranting batang ke arah tanah.
        Menurut Bapak Wayan Suartana, kegiatan merunduk tanaman jeruk ini bertujuan agar mempercepat pertumbuhan calon benih mata tunas okulasi yang sudah ditempel. Agar asupan atau suplai nutrisi tersalurkan dengan baik untuk pertumbuhan mata tunas okulasi. Dipotong sebagian batang rundukan dan disisakan 20% batang serta daunnya. 
       


Teknik merunduk (layerage) memang digunakan untuk perbanyakan tanaman jeruk Tejakula (Citrus reticulata var. Tejakula). Namun tidak semua tanaman dapat dilakukan layerage. Perundukan pada tanaman jeruk Tejakula hanya merundukkan bagian batangnya saja tidak dibenamkan hingga ke tanah tetapi batangnya hanya dibengkokkan saja.  Bagian batang yang di runduk adalah bagian batang dewasa yang berada di atas mata tunas pokok yang sudah ditempel. Menurut Dewr, E. S., Selvy H., dan Rosnina. (2016) terdapat beberapa syarat perlu memperhatikan dalam merunduk, yakni memiliki cabang yang panjang, tekstur cabangnya lencur, dan lokasi cabang yang dekat dengan tanah. 

        Perundukan adalah metode perbanyakan dimana akar adventif dipacu terbentuk pada batang sementara batang tersebut masih melekat pada tanaman induknya (Duaja, Elis, dan Gusniwati.2020). Sedangkan menurut Dewr, E. S., Selvy H., dan Rosnina. (2016) merunduk adalah proses perkembangbiakan secara vegetative buatan yang dilakukan pada tanaman yang mempunyai cabang panjang dengan merundukkannya ke arah tanah. Menurut Duaja, Elis, dan Gusniwati. (2020) terdapat enam tipe perundukan yaitu air layering, simple layering, tip layering, trench layering, serpentine layering dan mound layering. Biasanya tipe perundukan yang dominan digunakan adalah air layering dan simple layering. Namun metode merunduk pada tanaman jeruk tejakula, bagian yang dirunduk tidak sampai menyentuh tanah hanya dibiarkan terkulai diatas permukaan tanah akan tetapi arah rundukkannya kearah tanah. 


Langkah Kerja: 

  1. Memilih batang yang mempunyai cabang atau ranting yang panjang dan lentur. 
  2. Perundukannya menggunakan gunting dimana batang dipotong dengan posisi miring. Tidak semua bagian batang dipotong tapi disisakan sedikit bagian kambium batangnya. Hal ini bertujuan untuk membantu pertumbuhan mata tunas tempel. 
  3. Kemudian batang yang dipotong miring dibengkokkan (dirundukan) ke arah tanah. 
  4. Setelah mata tunas tumbuh menjadi benih pokok, maka bagian batang rundukan di potong. 
  5. Rundukan dipotong menggunakan gunting khusus dan tidak semua bagian batang rundukan dipotong. Namun disisakan sedikit batang serta cabangnya. 
  6. Setelah itu tanaman jeruk dibiarkan tumbuh hingga mencapai kira-kira 20 cm. Hingga benih pokok siap untuk menjadi tanaman jeruk yang baru.

Sumber: 

  1. Luta, D. A. 2022. Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif Buatan. Sukoharjo: Tahta Media Group. 
  2. Duaja, M. D., Elis K. dan Gusniwati. 2020. Pembiakan Tanaman Secara Vegetatif. Jambi: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi
  3. Dewr, E. S., Selvy H., dan Rosnina. 2016. Teknologi Perbanyakan Tanaman Generatif & Vegetatif.  Aceh: Universitas Malikussaleh. 
  4. Prastowo N, J.M. Roshetko, dkk. 2006.Tehnik Pembibitan dan Perbanyakan Vegetatif Tanaman Buah. Bogor: World Agroforestry Centre (ICRAF) dan Winrock International. p. 100. 

Kultur Jaringan Anggrek Bulan (Dendrobium sp.)

 Kultur Jaringan dan Multipikasi Tanaman Anggrek Bulan (Dendrobium sp.) Secara In Vitro

    Kultur Jaringan merupakan suatu teknik budidaya perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan metode non-konvensional. Kultur jaringan melibatkan pertumbuhan dan perkembangan dari jaringan atau organ tanaman yang dilakukan secara in vitro (dalam botol), yang artinya dilakukan di luar lingkungan alaminya dimana dilakukan di dalam sebuah wadah kultur yang terkontrol. Pada proses kultur jaringan terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan, antara lain (1) pembuatan media agar; (2) pemilihan tanaman induk (eksplan); (3) Sterilisasi; (4) Multiplikasi; (5) Pengakaran; (6) Aklimatisasi; (7) Penanaman di lapangan (Arti, 2023). 
    
    Kegiatan kultur jaringan dilakukan di laboratorium. di UPTD. BPPSTPHBUN terdapat satu laboratorium anggrek yang memang digunakan untuk perbanyakan tanaman anggrek. Di laboratorium ini saya belajar kultur jaringan berasama dengan Ibu Kadek Dwi sebagai laboran. Beliau mengajarkan cara untuk memperbanyak sub kultur ke dalam media tanam yang baru. Kegiatan ini dinamakan multiplikasi sub kultur. Karena saat ini tanaman anggrek belum menghasilkan buah, sehingga kegiatan yang dilakukan adalah multiplikasi sub kultur secara in vitro. Karena baru pertama kali melakukan kultur jaringan, saya diajarkan prosedur kerja mulai dari menyiapkan alat dan bahan serta langkah kerja yang harus dilakukan. Salah satu pegawai mendemontrasikan langkah kerja yang harus dilakukan setelah itu barulah saya dan rekan-rekan yang lainnya mempraktikan setelahnya. 

Berikut merupakan video demontrasi kegiatan multiplikasi sub kultur tanaman anggrek bulan (Dendrobium sp.): 
(Demontrasi kultur jaringan)
dokumentasi pribadi

    Berdasarkan atas demontrasi dan video diatas, adapun alat dan bahan serta langkah kerja atau prosedur kerja yang dilakukan yaitu sebgai berikut:

Alat dan bahan 

  1. Petry dish (Cawan petri) 6 buah
  2. Pinset besar 1 buah
  3. Pinset kecil 1 buah 
  4. Spatula 1 buah
  5. Pisau kecil 1 buah
  6. Gunting 1 buah
  7. Kapas secukupnya
  8. Spiritus
  9. Media tanam secukupnya 
  10. Botol dan penutup karet


Prosedur kerja: 

  1. Menghidupkan Laminar air flow selama 30 menit sebelum digunakan. 
  2. Menyiapkan alkohol 70% untuk strerilisasi alat kultur jaringan
  3. Pinset besar dan kecil, spatula dan gunting distrerilisasi di api bunsen. 
  4. Setiap mau menggunakan alat harus di strerilisasi di api dan alkohol di rendam
  5. Cawan petri di strerilisasi di api bunsen
  6. Kapas di lilit di spatula dan dimasukkan ke dalam alkohol 70%. 
  7. Setelah itu siapkan tanaman kultur jaringan
  8. Buka tutup dan keluarkan tanaman dari dalam botol menggunakan pinset yang streril dipindahkan ke dalam cawan petri dan ditutup kembali
  9. Kemudian sub kultur yang sudah di pindahkan ke cawan petri di potong kecil kecil di perbanyak. Dipindahkan ke cawan petri yang satunya. Hingga sub kultur habis. 
  10. Kemudian ambil botol media tanam dan sub kultur di tanam pada botol media tanam yang baru. 
  11. Setelah seluruh sub kultur di tanam pada media tanam yang baru, kemudian di beri label dan di-wrap menggunakan plastic wrap bening. Lalu disimpan dalam ruangan yang streril. 
  12. Setelah selesai kegiatan praktikum, selanjutnya mematikan blower laminar air flow terlebih dahulu, kemudian mematikan mesinnya.  
  13. Membersihkan alat yang digunakan menggunakan sabun dan alkohol kemudian disimpan dalam keranjang
  14. Botol-botol kultur yang berisi sub kultur disusun di rak-rak kultur yang ada di dalam ruang inkubasi. 
  15. Selama masa inkubasi, dilakukan pengamatan terhadap kultur setiap minggu sekali. 
Sumber: 
  1. Arti, L. T. dan Mukarlina. (2017). Multiplikasi Anggrek Bulan (Dendrobium sp.) Dengan Penambahan Ekstrak Taoge Dan Benzyl Amino Purine (BAP) Secara InVitro. Protobiont Vol. 6 (3) : 278 – 282. 
  2. Sari, A. M. 2023. Kultur Jaringan: Tahapan dan Manfaatnya. Fakultas Pertanian. https://faperta.umsu.ac.id/2023/06/29/kultur-jaringan-tahapan-dan-manfaatnya/ [Diakses pada 17 Oktober 2023]. 

Dokumentasi kegiatan: 
 


Mewiwil Tanaman Jeruk Tejakula Citrus reticulata var. Tejakula)

 Mewiwil Tanaman Jeruk Tejakula 

    Dalam merangsang pertumbuhan tanaman diperlukan kegiatan perawatan dan pemeliharaan tanaman. Salah satunya adalah pemangkasan. Pemangkasan diartikan sebagai kegiatan membuang sebagian bagian tanaman untuk maksud dan tujuan tertentu (Yuliana, et al. 2017). Metode pemangkasan dilakukan dengan berbagai tujuan tertentu seperti untuk pemeliharaan, peremajaan, meningkatkan produksi, dan tujuan estetika. (Syam. H. dan Djamaluddin 2012:41).  Pemangkasan juga mampu merangsang pertumbuhan dari tunas-tunas produktif, dan bertujuan untuk menghilangkan tunas-tunas tidak produktif atau tunas-tunas yang mengarah ke dalam, mempermudah pemeliharaan tanaman, dan pembentukan tanaman muda (tajuk pohon) (Yuliana, et al. 2017).

Teknik Pemangkasan

Dalam pemangkasan mencakup beberapa teknik yang dilakukan, yaitu pemangkasan bentuk, pemangkasan pemeliharaan, dan wiwil (Yuliana, et al. 2017). 
  1. Pemangkasan bentuk.  pemangkasan bentuk dapat diterapkan mulai dari tahun pertama yang memiliki tinggi lebih dari 75 cm. Pucuk tanaman kemudian akan dipangkas menjadi setinggi ± 60cm, lalu yang dipelihara adalah 4-5 tunas. Tunas yang dipelihara tersebut akan menjadi cabang yang nantinya akan dipilih 3 cabang utama yang baik dan sehat untuk dipertahankan. 
  2. Pemangkasan pemeliharaan. teknik ini hanya dilakukan pada pohon yang produktif. Teknik ini digunakan untuk tujuan keseimbangan pertumbuhan vegetatif tanaman jeruk dan untuk melaksanakan sanitasi pada kebun/lahan yang digunakan. Dalam pemangkasan pemeliharaan bagian tanaman yang dipangkas atau dibuang adalah bagian cabang yang tidak produktif, seperti cabang balik, tangkai bekas buah, dan cabang atau ranting yang sakit. Pemangkasan pemeliharaan biasanya dilakukan setelah proses pemanenan. 
  3. Pemangkasan wiwilan atau wiwil. Wiwil biasanya dilakukan pada TBM (Tanaman Belum Menghasilkan). Wiwil dilakukan dengan cara membuang tunas-tunas air yang tumbuh di batang bawah, hal ini disebabkan karena petumbuhan tunas air di bagian batang bawah lebih cepat dari pada di bagian batang atas. Teknik ini digunakan untuk menghindari cabang batang bawah lebih besar dari pada cabang batang atas, dimana nantinya dikhawatirkan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan batang atas. 

Friday, October 6, 2023

Aktivity Week 3

 Kegiatan Minggu Ke-3

Halo...
    Kembali lagi di minggu ke-3 magang di UPTD. BPPSTPHBUN Luwus. Pada kesempatan kali ini, saya akan membagikan kembali aktivitas saya selama minggu ke-3 ini. 

    Seperti biasanya, di pagi hari saya bersama rekan-rekan diberikan pengarahan dan beberapa materi informasi baru dari Bapak Wayan Suartana selaku Mentor di tempat magang. Kami diberikan pengarahan selama 15 menit terkait dengan kegiatan yang akan kami lakukan. 

Pemeliharaan Tanaman Jeruk Tejakula

    Kegiatan di pagi hari saya bersama ketiga rekan yang lainnya berkegiatan di lapangan. Salah satunya di kebun jeruk. Kegiatan yang saya lakukan adalah melanjutkan mewiwil atau pewiwilan. Karena setelah seminggu, tunas air atau tunas samping yang ada di sekitar mata tunas sudah mulai tumbuh kembali, sehingga harus segera di wiwil agar tidak mengganggu produktivitas dari mata tunas tempel yang tumbuh. Kegiatan ini sangat mempengaruhi pertumbuhan dari mata tempel untuk mendapatkan nutrisi. Selain itu, mewiwil ini juga berfungsi untuk merangsang pertumbuhan dari mata tempel menjadi lebih cepat. 

Pengendalian OPT (Organisme Penganggu Tanaman) atau Hama. 

    Tidak hanya kegiatan pemeliharaan tanaman jeruk Tejakula saja yang saya lakukan, tetapi juga melaksanakan kegiatan pengendalian OPT atau Hama untuk varietas tanaman jeruk Tejakula. Kegiatan ini dilakukan untuk menjaga tanaman jeruk agar tidak terserang hama atau serangga. Penggunaan Insectisida bertujuan untuk menekan atau mengurangi populasi jasad pengganggu seperti hama, penyakit, dan gulma sampai di bawah batas nilai ambang ekonomi, tanpa menimbulkan dampak resistensi tanaman, resurgensi, keracunan tanaman pokok dan pencemaran lingkungan. Bahan yang digunakan berupa Insectisida dengan konsentrasi 2cc/liter air menggunakan alat semprot sprayer. Aplikasi menggunakan teknik penyemprotan, merupakan teknik pengaplikasian yang umum dilakukan oleh para petani. Supaya aplikasi dengan tenik penyemprotan ini maksimal dan berhasil, terdapat beberapa faktor pendukung lainnya seperti waktu pengendalian yang tepat, jenis insectisida yang digunakan, takaran konsentrasi dosis dan alat aplikasi yang digunakan dalam pengendalian hama sehingga pengaplikasiannya dapat tepat sasaran dan menjamin penyebaran bahan atau campuran insektisida merata tanpa menimbulkan pemborosan. Waktu pengendalian hama ini dilakukan baiknya pada pagi hari kata petani yang bertugas. Pengendalian hama yang dilakukan berpedoman pada PHT (Pengendalian Hama Terpadu). 


Kegiatan Pengolahan Tanah atau Pembuatan Bedeng untuk Penanaman Batang Bawah (Understem). 

    Kegiatan selanjutnya yang saya lakukan adalah pengolahan tanah dengan membuat bedengan untuk menanam batang bawah yang akan menjadi batang induk untuk okulasi tanaman jeruk Tejakula. Adapun langkah-langkah yang dilakukan yaitu sebagai berikut: 

  • Sebelum membuat bedengan, tanah yang kering diirigasi menggunakan air mengalir. 
  • Kemudian tanah dicangkul dan dibuat seperti gundukan. 
  • Setelah itu, tanah diberikan campuran Pupuk Kompos, Pupuk NPK, dan Kapur Dolomit disebar di atas tanah secara merata. Tujuan dari pemberian pupuk ini adalah untuk mempersiapkan tanah yang baik untuk pertumbuhan batang bawah sehingga kondisi unsur-unsur hara tanah kembali dan tanaman jeruk dapat tumbuh maksimal. 

Komposisi: 

  • Pupuk Kompos: Pupuk kompos merupakan salah satu jenis pupuk organik yang telah mengalami proses penguraian mikroorganisme dengan bahan organik. Selain itu juga menggunakan pupuk kotoran sapi. 
  • Pupuk NPK: Pupuk sintentik yang sering digunakan oleh para petani adalah pupuk NPK. Pupuk NPK adalah pupuk yang memilik kandungan tiga unsur hara makro, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). unsur hara makro baik bagi pertumbuhan tanaman. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa unsur hara makro tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara nyata dan signifikan. 
  • Dolomit adalah kapur yang digunakan untuk keperluan pertanian. Kapur ini mengandung kalsium (CaO) dan Magnesium (MgO). Kapur dolomit mengandung unsur hara kalsium oksida (CaO) dan juga magnesium oksida (MgO) dengan kadar yang cukup tinggi hal ini dapat menetralkan pH tanah. Kegunaan utama dolomit yaitu untuk meningkatkan pH tanah maupun air serta menetralkan kadar keasaman tanah.

    Kegiatan dilanjutkan dengan proses pemasangan mulsa plastik tujuannya agar rumput tidak cepat tumbuh. Dari kegiatan yang dilakukan adapun cara memasang mulsa plastik yaitu sebagai berikut. 

  1. Mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan dalam memasang mulsa plastik.
  2. Mempersiapkan mulsa plastik yang digunakan.
  3. Posisikan atau letakkan mulsa plastik dengan benar.
  4. Memasang mulsa plastik di atas permukaan gundukan media tanam atau bedengan.
  5. Menjepit mulsa plastik menggunakan bambu yang sudah diruncingkan agar mulsa tidak bergeser. 
  6. Membuat lubang tanam pada mulsa plastik.
  7. Media tanam siap untuk dipakai.


Pembuatan Media Tanam Tanaman Durian Lokal (Durio Zibenthimus Murr).


    
    Pembuatan media tanam tanaman Durian Lokal (Durio Zibenthimus Murr). Pembuatan media tanam menggunakan bahan-bahan berupa tanah subur, sekam, kompos, dan thricoderma. Perbandingan yang digunakan adalah 2:1:1 dan 0,2% thricoderma. Bahan semua dicampur menjadi satu kemudian dimasukkan ke dalam polybag. 


       Setelah itu menpersiapkan bibit durian lokal yang akan di tanam. Bibit durian lokal berupa biji durian lokal yang kondisinya bagus tidak kisut atau busuk. Memiliki bentuk yang bulat dan tidak ada perlukaan dibagian kulitnya. Setelah menyortir biji durian, kemudian dicuci hingga bersih dari kotoran yang menempel. Tujuannya adalah agar tidak busuk atau berjamur ketika di tanam di media tanam. Setelah dicuci bersih, barulah biji di tanam di media tanam yang sudah disiapkan sebelumnya. Biji ditanam dengan membenamkan setengah biji nya. Tujuannya agar mempercepat pertumbuhan biji dan mencegah terjadinya pembusukan atau terkontaminasi jamur pada biji. Atau biji masih terlihat di permukaan tanah. Setelah itu semua biji ditanam kemudian di siram dengan air dan dibiarkan tumbuh selama kurang lebih 3 bulan barulah nantinya akan menjadi batang bawah yang siap untuk di okulasi.

Kegiatan Pembuatan Media Tanam Tanaman Anggrek Bulan 

    Pembuatan media tanam tanaman anggrek saya lakukan bersama dengan rekan-rekan yang lainnya. Media yang kami buat sebanyak 2 liter. Adapun beberapa alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan media. 

Alat: 

  1. Gelas ukur 1L dan 2L
  2. Panci 
  3. Blender
  4. Spatula
  5. Timbangan
  6. Soup ladle stainless
  7. Corong 
  8. Botol kaca 

Bahan: 

  1. Air kelapa 150 gr/L
  2. Gula 20 gr/L
  3. Agar plan 1 saset/L
  4. Pisang ambon 150gr/L
  5. Arang 1 gr/L
  6. Air steril hingga mencapai 1L (850ml)
  7. Media Murashige dan Skoog (MS) 4,43 gr/L

Langkah Kerja membuat media sebanyak 2L: 

  1. Sterilisasi alat atau botol dan tutup karet ke dalam autoclave selama 30 menit. 
  2. Mempersiapkan bahan-bahan yang digunakan. 
  3. Menyiapkan air kelapa sebanyak 300ml. 
  4. Menimbang gula sebanyak 40gr dan kemudian masukan kedalam larutan air kelapa. 
  5. Menimbang MS sebanyak 4,43 gr/L sebanyak 2x sehingga memperoleh 8,46 gr MS. Kemudian dimasukkan ke dalam larutan air kelapa. 
  6. Kemudian menimbang 300 gr pisang dan di blender hingga halus. Kemudisn memasukkannya kedalam larutan air kelapa. 
  7. Selanjutnya memasukkan 2 gr arang dan 2 saset agar-agar plan kedalam larutan air kelapa.
  8. Setelah seluruh bahan tercampur rata kemudian ditambahkan air steril hingga mencapai 2L. 
  9. Langkah berikutnya adalah memasak larutan hingga mendidih. 
  10. Setelah mendidih larutan dimasukkan kedalam botol kultur jaringan menggunakan corong sebanyak 1 soup ladle. Jika seluruh larutan sudah habis kemudian botol di tutup menggunakan penutup karet dan kembali di sterilisasi ke dalam autoclave selama 1 jam. 
  11. Setelah sterilisasi media, kemudian media di rebahkan secara horizontal, diberikan label, dan disimpan dalam lemari penyimpanan.

Kegiatan Aklimatisasi Tanaman Anggrek Bulan Hybrid

Kegiatan Aklimati tanaman anggrek merupakan tahapan terakhir dalam proses kultur jaringan. Tujuan aklimatitasi ini adalah untuk mengadaptasi atau mengkondisikan sub kultur yang sebelumnya tumbuh di dalam botol (in vitro) agar selanjutnya dapat tumbuh dan berkembang di luar botol/ lingkungan alamiah. Adapun beberapa tahapan yang dilakukan yaitu sebagai berikut.  

  1. Mempersiapkan bibit yang siap di aklimatisasi. 
  2. Bibit dikeluarkan dari botol menggunakan pinset panjang. 
  3. Bibit yang sudah dikeluarkan, kemudian di bilas menggunakan air mengalir hingga bersih. 
  4. Setelah dibilas, bibit kemudian di keringkan atau ditiriskan. Bibit diletakkan di atas kertas hingga benar-benar kering. 
  5. Setelah kering, bibit di tata di dalam kompot. 
  6. Bibit dalam kompot di simpan dalam ruangan yang tertutup. 
  7. Setelah itu, bibit dipindahkan ke dalam rumah kasa. 
  8. Langkah berikutnya, bibit di single dengan moss ke dalam plastik kecil. 
  9. Bibit yang disingle, ditata di dalam kompot. 
  10. Seteleh itu, bibit single yang sudah tumbuh di dalam kompot di pindahkan ke dalam pot berukuran kecil. 
  11. Setelah bibit tumbuh besar, bibit dipindahkan ke dalam pot besar. 
  12. Langkah terakhir adalah perawatan tanaman dengan penyiraman dan pemupukan. 
 


Sumber: 

Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2021. Pupuk Dolomit untuk Kesuburan Tanah. https://pustaka.setjen.pertanian.go.id/index-berita/pupuk-dolomit-untuk-kesuburan-tanaman [Diakses pada 2 Oktober 2023].

Ismailmyacob. 2015. Batang Bawah dan Batang Atas, Ilmu Agribisnis Pertanian. https://esemkasajnb.wordpress.com/2015/04/12/batang-bawah-dan-batang-atas/ [Diakses pada 2 Oktober 2023].


Dokumentasi :
















Popular Posts

Recent Posts

Widget

Copyright © Pengalaman Magang di UPTD BPPSTPHBUN LUWUS | Powered by Blogger
Design by Viva Themes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com